Dec 27, 2013

Jogja Getaway (2)

Hari ketiga, abis sarapan lanjut packingan karena mau check out. Bener-bener gak ada yang dilakuin selain leyeh-leyeh nonton tv di kamar sambil ngemil. Thanks God kamar segitu pecahnya tapi saya gak mesti beberes ^__^ Di dalem taksi ngobrol sama sopirnya, ditanya dari mana, mau ke mana, kok ga berwisata ke candi-candi, katanya candi Ratu Boko bagus...trus saya jawab enggak deh, takut hujan, anak saya juga takut sama patung-patung. Trus dia nanya lagi, "jadi besok ke Parangtritis nih? kan udah deket dari sini" Duh, bener juga si bapak...pengeeeen mantaaaii, tempat nginep yang selanjutnya ini lokasinya udah di jalan raya Parangtritis, tinggal lurus, kapan lagiii ketemu laut. Tapi mikir, besok pulang, kalo besok pagi ke pantai, kemungkinan besar baju kita basah, baju anak-anak apalagi, kalopun dijemur dari pagi, gak akan kering sebelum check out, wong hari sebelumnya celana yang kena ompol aja dijemurnya semaleman. Yuk mareee, gagal mantai karena rute yang acakadut.

Dari Pop hotel Sangaji naek taksi argo ke jalan Prawirotaman kena tarif 25rb. Ini murah, karena jaraknya lumayan jauh dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Omah Lawas homestay  (@omahlawas)
Jl. Prawirotaman MG III / 649 Yogyakarta. Phone: (0274) 414122, +62 81802671100
   

Dari review yang saya baca, tempat ini homy banget gak seperti lagi numpang nginep. Ternyata bener sih, suasana rumahannya udah kerasa dari mulai masuk halaman rumah, sofa rotan plus meja dengan majalah-majalah di teras, masuk ke ruang tamu disambut sofa ukir besar dan lampu chandelier mewah, masuk lagi ke dalem, ada meja kerja besar yang berfungsi sebagai meja resepsionis dengan petugas yang ramah dan bersahabat. Melirik ke sebelah resepsionis, ada ruang keluarga dengan sofa empuk dan tv gede di mana (kayanya) anak-anak yang punya rumah lagi pada main PS di situ sambil lesehan gelar karpet dan bantal-bantal.

Bangunan rumah ini guedeeee banget, kalo ngebayangin rumah tradisional Joglo sih enggak, tapi bukan juga rumah modern. Mmmm, gimana ya...rumah mewah ala nenek-kakek gitu deh, tua tapi dirawat dengan amat baik oleh yang punya rumah (atau pembantu yang punya rumah), terlihat dari perabot-perabot klasik yang masih apik, lantai marmer, pijakan tangga lebar dengan pegangan besi gede-gede, chandelier yang menggantung di setiap ruangan, dan sofa-sofa besar buat bersantai keluarga. Di belakang rumah ada paviliun-paviliun kecil dan dapur tempat para petugas tinggal.

Kamarnya sendiri cuma ada lima, tiga di bawah, dua di atas. Saya kebagian kamar Janaka di lantai dua. Kamarnya luaasss, bahkan kepotong sama kasur yang besar pun space kosongnya masih lega. Kebayang ga ranjang tidur yang di papan bagian atas kepala masih ada radio, pemutar kaset pita dan speaker di kiri-kanan, itu model taun berapa ya? lawas banget pastinya, tapi kayu-kayunya masih kuat dan terawat, kasurnya juga empuk dan bersih, bantal-gulingnya juga wangii. Ada lemari baju gede yang satu set dengan meja rias yang kacanya bulat, oh wow...jadul visund. TV tersedia di kamar dan di ruang tengah, tapi bukan LCD tv modern kaya di hotel sih, channelnya pun lokal..tv di kamar ditaro di atas bufet kayu, di sebelahnya disediakan mineral water dua botol, cangkir dua biji, beberapa sachet kopi dan teh berikut gula+krimernya.

Ini Janaka Room, rate 350rb/night
Kamar mandinya juga besar, lagi-lagi meski gak mewah, tapi fasilitas lengkap, ada wastafel dengan cermin dan tempat sikat gigi, gantungan jemuran, tisu roll, kloset duduk yang bersih, shower plus bath tub oval di sudut ruangan, lengkap dengan toilettriesnya. Gak apa-apa deh gak bisa ke pantai, at least bisa seneng-seneng sama anak-anak berendam berempat di bath tub hangat sambil main air.

Gue rasa pemilik rumah ini sudah memikirkan sedemikian rupa tata ruang, posisi kamar tidur dan kamar mandi, ventilasi dan pencahayaan sehingga semuanya tertata rapi dan apik. Di ruang tengah lantai atas juga ada dua set meja-kursi makan dan dua set sofa + tv. Dari balkon, bisa memandang halaman belakang yang hijau-hijau sambil intip homestay sebelah.

 
Nyampe kamar anak-anak langsung bergelimpangan guling-guling di kasur, di lantai, ngaca, trus bolak balik keluar kamar mencet-mencetin dispenser yang disediakan di beberapa sudut ruangan. Sesuai banget sama taglinenya, Singgah di Omah Lawas, serasa di Rumah Sendiri.

Bisa ditebak, abis cape-capean eksplor tempat baru, pada tidur siang lamaaa makinlah gak ada kesempatan buat jalan-jalan T___T emang harus ikhlas, beginilah kalo liburan sama anak, ganggu rutinitasnya juga kasian takut malah rungsing makin rewel. Sorenya abis pada jebur-jeburan mandi, jajan cemilan ke depan, nongkrong di taman sambil nunggu ayah pulang.

ini view taman belakang dari balkon atas
Menjelang malam, gorden-gorden udah ditutup, chandelier berkilauan ini ngasih cahaya kuning yang hangat dan temaram eerr tapi kok saya ngerasa agak keueung ya, aduh please terjemahkan keueung dalam bahasa Indonesia. Mungkin juga karena saat itu sepiiii banget, anak-anak nonton tv di kamar, saya jalan-jalan di ruang tengah tanpa arti, cuma ada dua kamar yang occupied, di bawah juga udah gak ada kegiatan yang punya rumah, cuma si resepsionis dan beberapa pelayan yang ngobrol. Sempet iseng browsing juga, jangan-jangan pernah ada traveler yang punya pengalaman horor di rumah ini atau di daerah sini, ternyata gak nemu satupun cerita gak ngenakin.

Setelah magrib ada rombongan keluarga yang baru dateng, nempatin kamar bawah. Baru deh kerasa rame, banyak suara ngobrol, denting piring sendok di ruang makan bawah juga bikin suasana mencair biasa lagi. Yah, mungkin bawaan rumah gede aja kali yah kalo orangnya dikit kerasa sepi...di mari rumahnya cuma seuprit siii jadi kesana-kesini mentok hehe.

Overall menyenangkan sih stay di sini, petugasnya helpful, fasilitas memadai dan semua berfungsi dengan baik, dijamin bersih trus nyaman. Mungkin cucoknya buat yang ada rencana ke Parangtritis atau Kotagede tapi gak mau terlalu jauh dari pusat kota. Sebenernya ke arah Parangtritis juga banyak penginapan-penginapan nyaman dengan harga murah, tapi ya menjauhi kota.

Oh ya, sarapan di sini bukan buffet, melainkan pilih dari menu yang tersedia. Ada nasi gudeg, nasi goreng dan roti bakar. Sudah plus teh atau kopi. Nggak istimewa sih, tapi buat ganjel perut mah lumayan aja.

Tips : jangan sungkan buat nanya apa boleh sarapan buat 3pax (kalo sama anak-anak), kayanya sih bisa...trus gak usah nyetok aqua botol buat di kamar karena dispenser tersedia di sudut-sudut rumah.

Makan malem terakhir di Jogja kita jalan kaki ke ViaVia Cafe, di Prawirotaman I. Sepanjang Prawirotaman I ini berjejer tempat nginep dan cafe-cafe bernuansa western, harga standar 300-400rb tapi cukup memadai buat istirahat atau naro ransel. Jalan Prawirotaman ini disebut international village karena banyak bule-bule yang pada stay di sini, entah alasannya apa (dekat pantai, mungkin?) jadi suasana sepanjang jalan ini kurang lebih mirip sama Kuta Bali.

ViaVia Traveler's Cafe (@ViaViaJogja)
Jl. Prawirotaman 30, Jogjakarta. Phone: +62 274 386557
Open every day 8.30 am - 11 pm

Tau ViaVia ini dari TUM, andalan banget deh cari info tempat asik buat keluarga. Trus pas browsing ternyata ViaVia Reiscafe ini  mmm semacam jaringan cafe global yang lokasinya ada di beberapa negara di tiap benua, reiscafe sendiri bahasa Belanda artinya cafe jalan-jalan (atau kurang lebih itu) karena memang ide awalnya berasal dari para traveler Belgia yang mengkhawatirkan dampak turisme massal terhadap lingkungan dan terkikisnya budaya lokal. Mereka lalu mengembangkan konsep sebuah tempat dimana para traveler bisa ketemu satu sama lain untuk bertukar pengalaman, saling bercerita dan menggali informasi sambil menikmati sajian dan suasana lokal tergantung di mana ViaVia tsb berada. No such thing as junkfood. Setiap ViaVia menyajikan local delicacies yang bahan-bahannya diambil dari pertanian/peternakan lokal juga, jadi setiap traveler yang mampir akan punya pengalaman lokal yang bisa dishare sama traveler lain. Mbulet, ya gitu deh :D Saat ini ViaVia sudah ada di 4 benua. Di Asia baru ada di Chengdu, China dan Jogja, Indonesia. Kenapa Jogja, bukan Bali? di webnya dijawab "buka di Jogja saja sudah sulit" ya, ya, membaca aja aku sulit, apalagi buka cafe... :))) 

Dengan tagline "ViaVia's are meeting places for world travelers. They are intersection between East and West, North and South", yang ada di bayangan saya tadinya semacam cafe-cafe ala Eropa yang berisi meja-meja panjang, botol-botol bir, riuh obrolan dan haha hihi para backpacker dari berbagai bangsa ngumpul di situ.

Sounds nice kalo buat nongkrong sendiri, tapi children friendly gak? karena ragu-ragu inilah akhirnya saya kontak twitter, nanya apakah boleh bawa toddler makan di tempat dan apa ambiancenya cukup friendly buat anak-anak, trus dijawab "of course you can bring toddler to dining in, you can bring his own meal but we also have kids menu". Oh, syukurlah..aman.

Tinggal jalan kaki 15 menit dari Prawirotaman III, ViaVia ini tempatnya friendly menyenangkan. Begitu masuk mau cari kursi di atas, dikasih tau waitressnya kalo di ruangan sebelah ada kids room dan no-smoking area. Wiihh, beneraaann...ada semacam playground kecil berkarpet, dindingnya digantung papan tulis beserta kapur warna-warni, ada box-box mainan binatang, masak-masakan, balok, trus kotak kecil berisi pensil warna dan spidol untuk menggambar atau mewarnai. Kertas coloringnya dikasih menyusul beserta list menu for kids, ada mashed potato with sausages and carrots, nasi goreng sayur, dan dua menu lainnya saya lupa. Price around 22-45rb.

play area

coloring (emaknya)
Arraf sama Ali coba menu mashed potato with sausages, sementara saya pesen pasta penne saus jamur, ayah pesen nasi goreng seafood + sunny side egg...

porsi paling besar punya saya
Harga makan-minum berkisar antara 15-100rb, it's okay kalo mau bawa makan atau minum lain sendiri, gak dilarang dikeluarin kok. A lil bit pricey sih makan di sini tapi lumayan kok porsi besar dan rasa enak-enak aja pas lagi laper. Meskipun begitu, pulangnya saya tetep mampir ke bakso solo tenda ;p      

Di sebelah area makan+main, ada deretan barang-barang handicraft yang dijual seperti sulaman, stuff daur ulang, tas-tas kain, kaos, rempah-rempah dan aromatic set. Semua ini diambil dari home industry lokal, jadi ViaVia itu selain jaringan cafe dan guesthouse, dia juga semacam pihak yang mengkampanyekan dan memberdayakan pengrajin lokal di daerah masing-masing. Di depannya ada rak-rak buku yang bisa dibaca, juga ada yang dijual. Ada buku resep masakan yang dijual di cafe ini, kapan-kapan deh bisa beli ol juga kok.

Recommended buat yang pengen punya pengalaman seru di Jogja, terutama karena gak bakal nemuin tempat kaya gini lagi di kota-kota lainnya di Indonesia :)

Tips : bring your own mineral water, biar masih bisa nongkrong meskipun makanan udah habis.
Oh iya satu lagi, bagi yang mau liat-liat dulu menunya bisa di download di sini.

Habis sarapan besok paginya, kita packing siap-siap pulang, ternyata oleh-oleh dari workshop ada satu ransel besar dan satu modul tebel yang artinya sekarang bawaan jadi ada tiga, pleus gak tau deh kok tiga-tiganya bisa penuh -___- baju cucian dan barang yang udah gak kepake dipack di satu ransel, dikirim via JNE dengan tarif 180rb aja doong untuk 7kg, aack sungguh muahaall....padahal ini minta diambil di JNE Malang bukan dianter ke rumah *bangkrut pagi-pagi*.

Ya bener kan kalo pagi ini kita ke Parangtritis, manalah mungkin bisa segera dipacking. Jam 10 baru checkout dari Omah Lawas menuju ke Keraton udah janjian sama salah satu abdi dalem disitu, tapi mendadak batal karena dia lagi ada acara akhirnya kita turun di Taman Sari / Water Castle / Istana Putri / Pemandian Putri Raja  dengan gembolan masing-masing anak di depan, ransel di belakang.

Taman Sari ini dulunya adalah tempat peristirahatan dan pemandian para selir Raja. Singkat aja deh, lengkapnya bisa browsing kemudian, jadi yang selintas saya denger dari guide sebelah, baginda Raja Jogja biasa bersantai-santai di sini sambil memandangi selir-selirnya mandi di kolam yang katanya airnya harum kembang setaman, lalu Raja boleh memilih dengan siapa dia ingin beristirahat, selir yang terpilih, akan naik dari kolam menuju tempat berhias, jika sudah selesai, ia akan melambaikan tangannya ke jendela tanda ia siap, lalu pindah ke ruangan peristirahatan bersama sang Raja.      

Agak enek memang dengernya, terutama kalo membayangkan perasaan Kanjeng Ratu di Istana, ah ya sutralah ya, Raja sekarang monogami kok *lhaaa, trus apa hubungannya?*

Pokoknya Taman Sari ini indah kok, bahkan sudah ratusan tahun lamanya, atmosfir kemewahan berendam di kolam bening dan wangi bunga masih bikin merinding. Dengan hawa panas Jogja yang menyengat, rasanya pengen nyebur aja gitu. Selain kolam-kolam juga ada mesjid di bawah tanah yang (katanya) baguuuss banget, sayang saya gak sempet nyusurin lebih lama lagi, udah keburu laper.

Ini pinjem dari Jogjes.com fotonya, biar ada gambaran...jepretan gue fotonya ga ada yang bener :|


Lalu kita ngebecak balik arah ke jalan Tirtodipuran, maksi di kedai bu Ageng, konon ini punyanya Butet Kertaredjasa. Menu di sini homemade traditional, masakannya semacam nasi rames, nasi campur, pecel, ayam panggang, bakwan jagung, telor gudeg, mendoan, ikan asin kapas, seperti yang ada di kebanyakan meja makan rumah lah.


menunya saya zoom deh
nasi campur ayam suwir
Dari segi porsi besar dan mengenyangkan, rasa juga enak dan otentik cita rasa Jawa, kecuali satu, bubur durian, err...enak kok sebenernya kalo buat pecinta duren, rasanya lekoh duren banget. Berhubung saya anti-duren yah sesuap langsung mual, begitupun yang terjadi saat nyoba the famous pancake durian tempo hari sebelumnya. Emang ga bisa dipaksa sih ya...
bubur durian lekoh 
Beres makan, pake becak yang sama menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, too baaaad, kita lupa kalo keraton cuma buka sampe jam 1, tadi kelamaan maksi, telat deh. Bengang-bengong, akhirnya pake becak lain keliling-keliling kompleks keraton yang katanya 4 hektaran itu (menurut mas becak). Mampir ke alun-alun yang ada pohon Beringin kembar, konon, hanya yang berhati bersihlah yang bisa melewati jalan di antara kedua pohon ini dengan lurus sambil mata tertutup. Kalo kata mas becaknya, perasaan kita jalan udah lurus padahal belok gak nyampe ke tengah-tengah pohon. Banyak orang nyoba disitu, sampe ada penyewaan penutup mata segala, beberapa ada yang emang belok, beberapa ada juga yang berhasil...ayah nyoba sekali belok, kedua kalinya lurus. Ya wallohua'lam deh beneran hatinya bersih atau pake feeling.


Abis dari alun-alun ke rumah mmm, apa yaa...semacam rumah peninggalan Sultan ke berapa gitu, yang dipergunakan sebagai tempat kerajinan batik. Lupa nama rumahnya, di foto juga gak ke captured (dan malas googling). Pokoknya di sini kita bisa liat proses pelukisan batik dari mulai dibuat pola, diwarnai, sampai dikeringkan.
lumayan lah tiga jam dapet selembar batik
Batik-batik yang dijual di sini juga gak ada yang murah, selembar ada yang ratusan ribu, bahkan yang udah jadi kemeja bisa sejuta. No wonder sih ya setelah liat cara pembuatannya gak mudah dan butuh ketelitian tinggi. Ibaratnya kita beli nilai, baik itu kreativitas maupun histori motif batik tsb, bukan semata-mata beli kain. Tapi di sini kita nggak belanja lah tentunya ya, numpang megang-megang aja sambil ngopi. Oh iya, di halamannya juga ada Kereta Kuda bersejarah yang konon ditawar miliaranpun, keraton nggak ngasih.

Keluar dari rumah batik agak sorean, gerimis mulai turun. Kita putusin buat langsung ke halte Transjogja terdekat aja mau ke Taman Pintar, eh ternyata rutenya agak muter jadi nyampe Taman Pintar jam 3-an, lagi-lagi gak jodoh. Akhirnya kita jalan kaki aja nyusurin sepanjang jalan situ, mampir ke Benteng Vraderburg, leyeh-leyeh lesehan di teras lebar, mengistirahatkan bahu dari ransel yang entah kenapa kok masih berat aja sambil numpang ngecas handphone. Anak-anak sih seneng aja lari-larian kesana kemari, gangguin pelancong lain, masuk-masuk ke ruangan museum sambil ribut. Di sini ada kedai kopi yang suasananya kolonial banget, Indische Koffie.
Add caption
Kita berangkat lagi sekitar jam 5 sore, too early for dinner, akhirnya jalan kaki mau beli oleh-oleh bakpia pathuk buat di kantor ayah dan di rumah. Kalo hasil googling, ada 5 bakpia enak di Jogja ;
1. Bakpia Merlino, Jl. Pakuningratan (barat Dagadu)
2. Bakpia 75, Jl. KS. Tubun
3. Bakpia Bu Sri, Jl. KS. Tubun
4. Bakpia Kurnia Sari, Jl. Glagahsari
5. Bakpia 25, Jl. KS. Tubun (barat malioboro)

Lokasi terdekat adalah Bakpia 25 di jalan KS Tubun, liat di googlemaps sih gak gitu jauh tapi ya namapun jalan kaki, tetep aja pegel. Toko oleh-oleh ini emang padat pengunjung, tapi juga padat makanan enak-enak. Yang menggiurkan buat saya cuma bakpia dengan segala varian rasanya. Makanan lain seperti dodol/jenang, keripik, yaa..di Malang juga ada kan, sedangkan pia dan bakpia meskipun serupa tapi beda bentuk dan rasanya *iya gitu? sotoy aja gue..*

Harga bakpia 25 Rp.30rb (isi 20) dan 25rb (isi 15), kalo isian rasa ada kacang hijau, keju, coklat, dan aneka rasa/mix. Sempet ada tester bakpia fresh dari mbaknya, masih hangat dan legiiittt banget pas digigit.

Sesungguhnya memang berat menyusuri keramaian dengan luggage di bahu dan gendong anak, even sudah pake ransel gunung dan carrier oke demi kenyamanan, ya tetep aja nyampe titik lelah. Lupakan gaya turis ala Lisa Namuri dan bubye effort terlihat kece di foto-foto, a simple jeans, t-shirt and slipper is the comfort way. Kalaulah handsfree, baru bisa jeprat jepret, seringnya kita udah terlalu lelah buat ngeluarin kamera dari saku sekalipun. Mungkin saya akan mendengar beberapa saran dan pertanyaan, kenapa gak jalan-jalannya dari kemarin aja sik? atau mungkin tenyata ada loker penitipan di suatu tempat, entah malioboro atau stasiun yaitulah kita gak tau. Tapi kalo ditanya enjoy gak? ENJOY. Ciyus bukan pencitraan.

Tujuan terakhir sebelum pulang adalah Mirota Batik, di malioboro, seberangnya pasar Beringharjo. Femes banget ya tempat ini, katanya sih karena lengkap banget koleksi batiknya dan murah-murah. Iyakah?

Ada tiga lantai di Mirota Batik ini, lantai pertama isinya baju, kemeja, dress, kain, sarung, buat cewe, cowo, anak-anak, orang tua, ada semua. Lantai dua isinya barang-barang handicraft dan tradisional, dari gantungan kunci ampe centong nasi, saking banyaknya item di sini ampe pusing, skip sajalah. Lantai tiga sebenernya gak ada apa-apa, cuma toilet, mushola dan ruang pertunjukan yang sering dipake buat pementasan teater atau lakon drama.Malem itu juga lagi ada show, dari tampilan para pemainnya sih kayanya tokoh pewayangan gitu. Dari info mas-mas penjaga barang di bawah, kalo mau nonton bayar 50rb, kalo mau makan di sana nambah lagi bayarnya. Oh iya, pemilik Mirota Batik dan House of Raminten itu sama, yaitu sosok berkebaya yang mukanya ada di segala penjuru toko.

Random fact : kata ayah yang nyobain toilet di sini, agak seram karena airnya berubah warna! ahahaha, gak tau sih ya deskripsi akuratnya gimana, saya sendiri kan gak masuk ke toilet tapi katanya airnya asalnya warna putih kaya susu trus lama-lama jadi bening, saya bilang mungkin itu efek buih air aja yang terlalu deres tapi ayah sebagai penggemar kisah-kisah supranatural ya yakin aja kalo itu bukan efek buih. Belum lagi ada piring clay yang ditaroin kembang-kembangan menambah 'aroma' seram si toilet. Kira-kira, wajah bu Raminten ada juga gak ya di dalem toilet? kalo iya, buang air sambil diliatin si ibu kan agak merinding juga yak? hihi.

Cukup lama ngubek-ngubek lantai satu Mirota Batik ini, sayangnya terlalu crowded dengan banyaknya pengunjung dan display yang terlalu rapat, jadi kalo ada yang mau lewat di gang yang sama, yang satu mesti ngalah mundur keluar dulu. Sama pusingnya sih sebenernya di lantai manapun, apalagi pas disitu Arraf bobo digendong ayah, terpaksa mesti diem di satu tempat yang mana sebenernya ga ada tempat duduk-duduk jadi numpang ke tempat lipetin kain yang ada tulisan "dilarang duduk di sini". Sementara saya hilir mudik sambil gendong Ali yang gak mau diem pengen megang-megang baju tapi kalo diturunin pasti eksplor kesana kemari takut ilang.

Hasil 2 jam di Mirota? Nihil, ahahahaha. Karena akhirnya cuma fokus cari kemeja anak aja buat ke kondangan biar punya baju formal gitu. Dapet batik pelangi buat duo unyil yang stoknya tinggal dikit lagi. Buat emak dan bapaknya cari di tempat lain atau kapan-kapan aja karena mustahil keluar masuk fitting room saat-saat begini.

Pas keluar dari Mirota baru liat ada stand oleh-oleh, yang ternyata jual juga bakpia unyil Raminten, oalah ekspansinya sampe ke bakpia juga nih bu Raminten. Kenapa dinamain bakpia unyil karena emang bite size, isi 20 biji, ada rasa keju dan coklat. Harga 13rb per kotak. Nyobain beli dua kotak, plus permen jahe buat anget-angetan di kereta.

Keluar dari Mirota udah setengah 9, kayanya udah aja deh jalan-jalannya, tinggal beli makan malem aja buat dimakan di kereta. Dari sini kita split, ayah sama kakak beli gudeg sementara saya sama Ali ke mal Malioboro mau ganti popok dan ke toilet. Meeting point di HokBen dalem mal, bungkus bento buat anak-anak sambil duduk-duduk bentar minum ocha dan ngemil katsu.

Dari malioboro, rasanya udah eneg nawar-nawar becak, kita nekatin buat jalan kaki aja sampe stasiun, gak terlalu jauh emang, cuma berat aja :p *keluhannya gak berubah*. Rasanya legaaaa banget bisa duduk nyaman kembali di Malioboro Ekspres, makan, kemudian tidur sampe pagi.

Kapan-kapan mau deh ke Jogja lagi, tentunya dengan itinerary yang lebih teratur. Kalo anak-anak udah gede mah gak akan minta digendong kali yaaah...

Dec 26, 2013

Jogja Getaway (1)

Ih udah lama bangeeeet gak cerita-cerita liburan ke luar kota, terakhir ke Bali jaman jebot waktu masih hamil Ali. Setelah itu ada dua kali rencana berlibur tapi digagalkan sama kerjaan, jadi mencukupkan diri berwisata di dalam kota saja. Oh kalo ke Bandung gak diitung jalan-jalan dong yaa..itu kan namanya balik kampuang.

Ke Jogja inipun sebenernya bukan murni jalan-jalan yang direncanakan, pas ayah ada training di sana aja jadi itung-itung refreshing sebentar. Ya daripada ditinggal bertiga di rumah sama jangkrik...krik krik.

First thing first, browsing tentunya. Mengingat saya terakhir kesana tahun 2004 itupun event kampus, setelah itu gak pernah ngelirik-lirik Jogja lagi sebagai destinasi wisata. Jadi cukup blank juga browsing kali ini, baca-bacain blog orang, web, forum jalan-jalan, forum emak-emak, nanya-nanya ke Dina sama Vivin yang domisili di Jogja, liat peta buat nyocokin jarak, dll tapi saya realistis juga sih, gak berharap banyak bisa kesana-sini dalam tempo sekian hari, kan ayah juga workshop full day selama dua hari. Waktu luangnya cuma malem manalah bisa jauh-jauh, jadi ya ngapalin tempat-tempat yang deket aja dulu..namapun liburan nebeng, go show aja deh.

Target packing, kebutuhan berempat selama empat hari harus fit di dua backpack. Karena sekarang anaknya udah dua, jadi cukup rempongnya depan-belakang saja, sebisa mungkin handsfree. Boba dan Sleepywrap mendadak dicuci H-1, gambling sama matahari yang gak bisa ditebak kemunculannya, sama gamblingnya mau bawa baju adem atau anget mengingat Jogja panas tapi sekarang musim hujan...at the end, Alhamdulillah packing lancar, cukup, gak salah bawa kostum.

Tapi kejadian tiap mau traveling terulang lagi. Tiga hari sebelum berangkat, Arraf mendadak batuk-batuk, suaranya sampe serak, ditambah muntah-muntah tiap habis makan. Tiap kali batuk nangis sambil bilang sakit..sakit..tapi ditanya mana yang sakit gak bisa bilang. Demam sampe 39 derajat on/off. Sempet ngira sariawan atau radang tenggorokan, tapi ternyata masih mau makan buah dan air putih meski gak mau makan nasi. Batuknya mengkhawatirkan, keder juga, jadi berangkat gak yaa..gimana kalo disana sakitnya tambah parah, gimana kalo di jalan muntah gak berhenti, dll..dll.  H-1 ingusnya mulai keluar..oh, okay...batpil mungkin..dan kita tetep berangkat. Semoga gue gak dijudge ibu tega.

Rencana naik bus Selasa malam pun batal biar Arraf punya waktu cukup istirahat dan emaknya ada kesempatan buat bongkar-packing ransel. Berangkat pake kereta Rabu paginya, dan seperti yang diduga, Arraf langsung sumringah naik kereta, mukanya gak berhenti senyum, loncat-loncat, bolak-balik jalan di gerbong, semua yang dilihat dari jendela disebut...kok yaaa lupa aja gitu sama sakitnya.

Meluncur dari stasiun Malang Kota Baru jam 8 pagi, Malioboro Ekspress ini dinginnya pake banget, udah berkaos kaki dan berjaket masih aja menggigil. PT.KAI aji mumpung deh, pagi-pagi gini selimut disewain dengan harga 5rb, belakangan kita tahu pas kereta pulang, selimut dibagikan cuma-cuma. Harga tiketnya sendiri 125rb dewasa, 10rb anak-anak. No snack.

Nyampe stasiun Tugu Jogja jam 3.15 sore, langsung diserbu sama tukang becak dan sopir taksi. Mau sok-sokan kalem tetep aja keliatan turis sih ya soalnya planga-plongo. Kita naik becak motor tujuan Pop Hotel yang kalo liat di peta cuma lewat satu perempatan aja dari stasiun kena harga 15rb hasil nawar dari 25rb.


tadinya mau post foto kita di stasiun tapi bagusan ini lah daripada muka bantal
Pop Hotel
Jl. A.M. Sangaji, Kav. 16-18, Jetis, 55000 Yogyakarta

Waktu tempuhnya sekitar 15 menit dari stasiun Tugu, atau kalo dari monumen Tugu bisa jalan kaki 5 menit aja, hyaampuun, trus lupa gak foto-foto di Tugu :'(

Kalo boleh pilih hotel sendiri sih kayanya gak bakal nginep di sini, soalnya meski cuma seperempat jam ke Malioboro tapi kan costly, ngebecak aja pp udah 30rb, jalan kaki ya gempor juga apalagi sambil gendong anak, tapi udah dibookingin kamar di sini sama kantor ya terima beres aja deh.

Sesuai konsepnya si Pop hotel ini interiornya minimalis banget, emang traveler's hotel sih, dari luar aja kelihatan bangungan persegi standar yang ornamennya hanya kotak-kotak jendela dengan kusen warna-warni, sekat antara lobby dan resto cuma pake partisi aneka warna bahkan tempat makannya semi outdoor, sebagian besar kursi yang terbuat dari rotan sintetis lokasinya di pelataran deket pemandangan taman.



Kamarnya juga gak terlalu besar, pasedek-sedek kalo orang Sunda bilang, gak tau juga kalo ada kelas lain yang lebih gede. Kasurnya sih lega, kita berempat masih leluasa guling-gulingan. Tambahan satu sofabed di samping kasur, cukuplah kalo mau sekamar tiga orang dewasa. Di samping sofabed ada wastafel dan perlengkapannya (mineral water 2 botol, dua gelas kumur). Di depannya ada ruangan setengah lingkaran berpintu kaca yaitu kamar mandi, dengan kloset duduk, tisu rol, dan shower hot and cold. Tersedia juga deposit box (yang sebelum check out dimainin anak-anak trus akhirnya locked), gak ada lemari tapi ada gantungan baju.

toilettriesnya cuma ini, tapi handuk dapet dua kok ;D 
Sarapannya juga gak kalah minimalis, haha..nasi kucing bok, menu sarapan dua hari naskuc telur, naskuc ayam, bubur kacang hijau, dan bubur ketan hitam. Snacknya roti bun polos, tanpa tersedia olesan apapun. Minum cuma ada teh sama kopi, tapi disediain fresh milk juga di jar kecil.


Saya pribadi sih suka-suka aja sama Pop, sepanjang gak bayar sendiri :p tapi ayah rada ngomel gegara menu sarapannya mengecewakan, anak-anak juga bosen kayanya bolak-balik di kamar yang cuma segitu-gitunya, sesi paling menyenangkan buat mereka ya pas mandi aja hujan-hujanan di bawah shower.  

Must try : ada tukang tahu crispy enak di perempatan jalan ke arah Tugu, yang jual orang Tasik. Di perempatan selanjutnya (jl Mangkubumi) ada kedai eskrim legendaris Tiptop.

Standar lah kalo traveling tujuan pertama yang dicari adalah supermarket buat beli-beli cemilan, popok, toilettries. Dari malioboro kita ngebecak lagi ke Kotabaru, mau makan malem di Raminten.

House of Raminten
Jl. FM Noto No.7, Kotabaru, Jogja

Pokoknya Raminten ini ngehip banget, karena tempat dan suasananya unik, njawani nyeleneh.  Kalo siang-siang sih keliatannya dia bertempat di halaman rumah besar gitu, trus dibikin pendopo-pendopo kayu beberapa lantai, taro meja-meja lesehan dengan kursi bantal ala jepang (tatami). Pernah baca dari satu travelers blog, di sini random banget dari mulai barang, suasana maupun penyajian menu. Meski konsepnya tradisional, ada tv modern supergede di ruang tunggu, iyes bok, pake antriaann, ada kandang kuda (tapi saya gak nemu kandang kudanya dimana), trus ada penampakan ibu-ibu tua pake kebaya dan kain tradisional jawa dengan raut muka dingin nongkrong di atas tangga, mungkin itu jimat penglaris, heheh *suudzon* gak tau ya mungkin itu ownernya, Ibu Raminten?

Bukan, kok. Owner Raminten ini bapak-bapak bernama Hamzah HS. Berarti laki, bukan? cuman kayanya Pak Hamzah ini seneng berpenampilan unik pake kebaya, jarik, selendang dan sanggulan. Alasannya ya mbuh, seneng aja kali. Oh ya, nggak pernah lupa pula khasnya kacamata bulat yang melorot dari hidung.

Trus para pramusajinya juga pake baju tradisional jawa, mbakmbaknya pake kain dan kemben, masmasnya pake kain, atasnya (harusnya) bertelanjang dada cuma ditutup rompi hitam, tapi yang saya liat kemarin ga ada sih yang berani menantang angin gitu, hampir semua pada pake kaos daleman putih, mungkin dilakukan atas komplenan pelanggan yang geli liat pelayan saji-sajiin makanan tapi bulu ketek kemana-mana, iieewwww... kalo si mbak yang melayani meja saya dia pake bolero lagi sih, jadi nggak terlalu terbuka, atau barangkali si mbak ada bekas kerokan di punggungnya *hobinya suudzon*

Pas kebetulan kita dapet meja di lantai dua, pojokan menuju mushola...dengan ornamen kayu-kayu warna gelap, lampu temaram dan wangi sajen bunga melati di berbagai penjuru, ngerasa agak spooky juga pandang-pandangan sama ayah..padahal di lantai bawah tampak meriah dengan lampu kelap kelip, rame suara orang ngobrol, di atas juga sih, cuma karena kita dapet pojokan aja dan meja sebelah kosong jadi agak sepi.

Menunya unik-unik juga, sampe harus nanya dulu ke mbaknya maksud makanan ini gimana. Sayang lupa capture menu tapi intinya bermacam-macam makanan jawa kaya sego kucing, sego gudeg, rawon, sop Raminten, dll, pilihan minumannya juga banyak gak mentok di teh sama jus doang, es-esan gitu banyak, namanya aneh-aneh kaya es melonkolis, soklat susu, jamu-jamuan kaya kunir asem, jahe ada juga. Berhubung bocah dua-duanya bobo, jadi kita cuma mesen sop Raminten+nasi, sego gudeg, jeruk panas sama serehlemon, plus mendoan seporsi.

ngambil dari 
Yang unik lainnya adalah cara penyajian minuman di tempat ini, paling cetar dan fenomenal adalah sajian soklat-susu Raminten. Saya pinjem dari Injie.com fotonya :

agak-agak cabul gimana gitu yak?
Kalo soal rasa makanan sih biasaaa, tapi porsinya gedeeee...cobain pesen bakso uleg (bakso + sambel uleg), porsinya cukup buat berdua pake mangkok super jumbo. Atau pesen dawet jumbo, gelasnya aja lebih lebar dari diameter piring makan :)) atau serehlemon yang saya pesen kemarin, gelasnya aja lebih tinggi dari dagu jadi nyeruputnya harus diangkat. Harganya yang paling juara, sego kucing cuma 1000 rupiah, sop isi daging tetelan 8rb, gudeg lengkap pake ayam telor 18rb, mendoan seporsi isi empat potongannya lebar-lebar 6rb, minuman dari mulai 3rb-an udah pake gelas gede. Total makan berdua 52rb, kenyang banget buat makan malem.

Sebenernya masih pengen nongkrong agak lamaan, ngemil-ngemil bakso atau es campur apalah, tapi kasian anak-anak tepar di gendongan sejak pulang dari Malioboro tadi, kita makan aja mereka gak bergeming. Akhirnya balik ke hotel aja jalan kaki walo agak jauh tapi lumayan sih jadi tau pemandangan kota.

Kalo nyari tempat makan child-friendly sih, Raminten kayanya kurang, soalnya jarak antar meja dempet-dempet, gak ada space buat main-main, trus bisa jadi too noisy bagi beberapa anak yang gak suka crowd. Saya lupa di sini no smoking area atau enggak soalnya tempatnya semi outdoor jadi masih ada udara lah gak sumpek-sumpek amat cuma tetep malesin aja kalo ada yang ngerokok.

Tips : cobain ke sini saat siang dan saat malam, siapa tau kerasa beda suasananya...

Hari kedua di Jogja, agak waste sebenernya...karena saya gak kemana-mana sesiangan sampe sore. Diem aja di hotel nonton film, bobo siang, browsing ini itu tapi gak pergi-pergi juga. Niatnya mau ke Taman Pintar, tapi anak-anak sulit sekali dikondisikan ya susah mandi lah susah makan, trus jam 12 yang harusnya berangkat malah pada bobo sampe jam 3 sementara Taman Pintar buka sampe jam 4 sore. Terus terang saya rada gugup kalo harus bawa dua anak jalan-jalan di tempat yang asing, rewel sih gak bakal, tapi takut ilang, takut bobo di jalan, takut gak kepegang lah intinya. Tapi tetep nyesel sih, kalo diberani-beraniin mungkin Arraf juga ga akan bobo kan banyak yang bisa diliat di sana. Akkhh...menyesaalll.

Jadinya saya sama anak-anak baru keluar hotel jam 4 sore janjian sama ayah di J.Co mal Malioboro, plis deh ya ujung-ujungnya ngemall, tapi yang ini dimaklumin aja yah, di Malang gak ada J.Co soalnya jadi rada ndeso gitu lah bungkus buat cemilan di kamar :p Lanjut nyusurin sepanjang Malioboro, keluar masuk toko batik, cuma buat nyari daster tapi ogah ngeluarin duit gede, ya cuma daster gituuu...sambil pasang kuping dari obrolan pelancong lain soal toko sebelah lebih murah, batiknya bagus, batiknya butut, akhirnya dapet lah di satu toko beberapa daster dan kemeja batik buat ayah.

Lanjut cari makan malem tapi gak bisa jauh-jauh, gak tau kenapa Arraf lagi pengen digendong terus gak mau turun jalan, jadi udahlah di jalan Dagen ada lesehan Raos Eco sebelahan sama gudeg Yuk Djum. Berhubung saya lebih ngiler sama bakso gerobakan pinggir jalan, jadi yang makan di Raos Eco cuma ayah aja, saya numpang makan bakso sama beli minum. Konon di Raos Eco itu makanan enaknya kering kentang, tapi pas kesitu malah gak keingetan jadi ayah cuma makan bebek pedas. Gudegnya Yuk Djum dibungkus buat di hotel ajah.

Enak sih gudeg Yuk Djum, semuanya dimasak well done alias bumbu meresap dan empuk sampe ke dalem-dalem, cuma karena saya bukan penggemar fanatik makanan manis, jadinya sedikit giung. Nangka manis, telor manis, ayam manis, kreceknya agak pedes tapi tetep dominan manis yah kurang seru makannya manis manja grup semua. Eh iya kemarin tuh ayamnya kehabisan, tinggal ada ayam suwir...jadi yang seharusnya harga 27rb sekotak, dapet diskon jadi 17rb. Katanya ada lagi ya yang lebih enak dari Yuk Djum, tapi gak nyoba..masa makan gudeg terus.

Enaknya abis tepar begini selonjoran di kasur trus tidur sampe pagi tapi anak-anak malem malah seger, loncat-loncatan, turun naik kasur, mencet-mencet deposit box, tiktok tiktok saklar lampu, manalah berani kita ninggal tidur, takutnya pada gelundung dari ranjang. Kalo di rumah kita tinggal tidur juga mereka paling banter kejungkel dari kasur 30cm, nangis dikit trus berantem-beranteman lagi. Larut malem baru deh mau pada diem selimutan, berakhir bangun siang di pagi harinya. Ctd.

Dec 7, 2013

It's Three and counting....

Arrayyan A. Arraf (071210)

Arraf is Three and still counting...insya Allah.
98cm, 13kg.

Udah bisa apa yaaa... Aahh, alhamdulillah aja atas semua milestone dari nol ke satu, satu ke dua, dan dua ke tiga.

Umur segini udah enak ya, bisa diajak ngobrol, udah bisa dikasih pengertian dan balik mengerti, udah bisa bersepakat, udah bisa bercerita dari yang dialami maupun memahami cerita bergambar.

Weaning selesai, lepas botol sudah, toilet training lulus, apetite stabil...

Ahh, nggak bisa ngomong apa-apa lagi selain Alhamdulillah ya Allah...semoga doa kami untuk anak-anak kami terkabul.
I love you, dearest son.... *kecup sebanyak-banyaknya* 

Hari Pertama

Ini puasa hari pertama kami. Dimulai dari sahur yang mepet karena tidur kemalaman dengan menu seadanya.  Puasa itu sederhana, nak. Menaha...