Dec 21, 2012

Love Enough for Two

"We know we did a good job loving our children when
each one feels he or she is the one we loved best."

- Unknown


Berderaian air mata baca artikelnya Pam Leo ini, gileeee....gue bangeeeetttt!!!! nget! nget!! 
Ya mungkin bukan cuma gue, tapi jutaan orangtua yang lagi ada di masa transisi dari punya satu anak jadi dua anak.

Many parents say they remember worrying about whether they could ever love the second baby as much as they loved their first child. Then, when the second baby was born, they loved the new baby so much they worried that they were betraying their first child.

Ini iya banget deh, having several convos with peer group, waktu masih punya anak satu, rata-rata pada belum siap punya anak lagi karena takut gak bisa sesayang ke anak pertama. Felt the same way, sure. Then BANG! lahir anak kedua, sayang, terus dibuntutin rasa bersalah ke anak pertama. Thus it's very berry challenging, ya ini baru tiga bulan ngejalaninnya tapi udah banyaaakkk banget pelajaran hidup yang didapet. 

The most stressful part of caring for two is when only one parent is there and both children need you at the same time. When they are very close in age they may both need the same thing at the same time.

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya, i feel more competent today about caring the baby, no babyblues at all. Tapi, ngurus kebutuhan dua anak, hmmm....jungkir balik rasanya. Dua tangan ini harus mampu menuhin kebutuhan dua belahan jiwa, all at once. Sayangnya, kita gak punya pilihan, harus bisa mikir cepet yang mana lebih urgent untuk duluan dilakukan, tapi harus dua-duanya dilakukan. 

Bangun tidur barengan, yang satu harus disusuin, yang satu harus buru-buru dikasih sarapan biar ga rewel karena lapar. Solusinya, siapin sarapan sambil nyusuin bayi di gendongan, atau bangun lebih awal buat bikin preparation dish. 

Nangis berjamaah? oke, saya dahulukan kakak, alesannya kakak udah bisa nangis lebay agar kebutuhannya diperhatikan or -at worst- leads to tantrum, tidaaakk. Sedangkan adik kadang nangis bentar, mimpi atau digigit nyamuk gak lama trus tidur sendiri.   

"Sleeps when your baby sleeps" surprisingly works on me, on certain times.

Children under three usually have the hardest time sharing their parents with the new baby. Many young children tell their parents they want them to send the baby back. Under threes are still very focused on their parents and still need a lot of attention. When very young children can't get what they need, right when they need it, they get very frustrated and some may express that frustration by trying to hurt the baby. 

Kalimat pertama bener, tapi selanjutnya Alhamdulillaaaahhh, sujud syukur enggak terjadi sama sekali. Kisah-kisah tentang sibling rivalry mengerikan yang sering saya denger, gak ada ceritanya antara Arraf-Ali. Mungkin karena Arraf belum bisa ngutarain perasaannya, sampe sekarang aja masih ngira 'dede bayi' itu masih di dalem perut ibu (nangiiisss, artinya perut gw masih kaya hamil), tapi ternyata hal tsb gak cuma terjadi di anak pertama seusia Arraf tapi hampir semua anak pertama yang baru punya adik, either he's 3, 4 or 5. Or even it's 15, when i was having my sister.... -__-"

Yah hal-hal mengkhawatirkan emang terjadi diawal, kaya elus-elus kepala bayi trus dicolok, bantal yang lagi ditidurin tiba-tiba ditarik, selimut lagi dipake diambil, nidurin tempat tidur bayi, bayi lagi tidur digangguin, digoyang-goyang boxnya, ribut kalo bayi nenen pengen ikut nenen endeswey endebrey tapi menurut saya semua masih bisa terkendali. Kendalinya ya bisa dengan pengertian atau sedikit marah-marah, just to show that he did wrong to his brother.

Nggak lama kok, bulan kedua keadaan aman-aman aja. Soal nen, berhubung pas adiknya lahir Arraf udah 21m, maka udah bisa dimulai proses sugesti weaningnya. Saya sering bilang kalo dede bayi masih kecil, belum bisa mamam makanya harus nenen sedangkan Arraf udah bisa mamam, main, trus bentar lagi sekolah jadi kalo mau sekolah udah gak nen. Sekarang Arraf udah bisa cuek kalo ibunya gendong Ali atau ngeliat biasa aja pas nenenin.

Arraf juga sering minta gendong bayi yang tentu saja saya kasih Ali di pangkuannya trus dicium-cium, diusap kepalanya sambil bilang "dede sayang..." tapi dengan upah kepalanya sendiri harus diusap sama ibu sambil bilang "kaka sayang...". Trus sebisa mungkin saya libatin taking care adiknya semisal ambilin popok atau telonnya, dimana habis minyakin adiknya trus minyakin dia juga (padahal udah). Ya intinya sih kami ngerti banget kalo dia takut lose attach sama orangtuanya dan kami pastikan hal itu gak akan terjadi. He's still number 1, along with his bro. (It is important to let the child know we understand how hard it is to wait when the baby needs attention and then give the child some love and attention as soon as possible.)

*bentar ya....ngelap air mata dulu*

The most important thing parents can do to make life smoother with the second baby is to take great care to make sure the first child's needs are still being well met.

We're trying our best up to present. Mumpung Ali juga masih kecil, banyak tidur, gampang dibuat tenang, masih ada waktu buat menciptakan kondisi saling pengertian antara kita berempat. Saya juga pelan-pelan harus menghilangkan rasa bersalah, jaga kondisi agar tetap waras sehingga bisa menghasilkan anak-anak yang baik. Kalo ayahnya pulang kerja udah pasti Arraf lepas dari saya nemplok ayahnya, begitupun weekend kita cari kegiatan yang melibatkan semuanya misal jalan-jalan atau berenang, meskipun yang berenang cuma Arraf dan ayah.

Wearing the baby in a sling is a great way to meet the needs of the baby and the older child. When the baby is in the sling, the baby's need for touch and movement is being met and you have both hands free to do more with the older child. Seeing the baby being carried may trigger a very young sibling's need to be carried, especially if they were not carried a lot as a baby. 

Iyaaa, ini banget lah. Sore hari, Arraf butuh main ke luar buat sosialisasi dan penyaluran energi, Ali masih melek gak mau ditaruh. Solusinya, bawa dua-duanya keluar...agak sulit pas ngejar Arraf yang menggelinding dengan bayi di gendongan, tapi tetangga-tetangga sini baik hati mau di outsource-kan mata saya buat mantau Arraf lari kemana. Awalnya Arraf juga suka minta digendong tapi lama-lama juga dia lebih suka main sendiri daripada digendong berdua.

The more resources parents have the better they are able to recognize, accept and appreciate each child's unique temperament and personality. Siblings can be (and often are) very different from each other. Just because they have the same parents doesn't mean they need the same kind of parenting.

Jadi memang kesalahan banget kalo saya selalu membandingkan Ali sama kakaknya waktu dulu. Waktu 2 bulan Arraf udah bisa anu, Ali kok belum atau sebaliknya -- ini gak adil. Statement di atas perlu banget banget saya ingat selamanya, biarpun jaraknya cuma 21m, biarpun mukanya mirip dan dibesarkan dalam satu masa, they're just different each other. Noted.

Dec 11, 2012

Project Ultah Abal-Abal

Ini namanya project nekat ambisius, pengen bikin sesuatu buat ultah Arraf tapi kemampuan baking nol, kemampuan masak nol. Jadiiii aja, random banget bikin ini itu mana aja yang jadi *giggle*

Nggak niat bikin pesta ultah rame-rame gitu sih, abis anaknya juga belum ngerti ulang taun sayang dia gak dapet maknanya. Arraf tau sih tiup lilin di atas kue, tapi dalam rangka apa ya gak ngerti. Dianya juga masih soliter kalo ada rame anak-anak di rumah pasti cuek melipir main sendiri, belum ngerti posisi center of attention. 

Karena kebetulan di sini tradisinya suka bagi-bagiin makanan, ya udah deh kita bikin goodie bag sama bento aja buat dibagi ke setiap anak, lumayan satu gang sini ada 20-25 anak *nyengir kuda* 

Bento abal-abal

Inspirasi dan contekan berasal dari dBento, dicari teknik dan contoh yang paaaaliiing sederhana (paling cemen). Pengen bikin bento yang dihias-hias gitu, ala kyaraben, tapi gak punya vegetable cutter dan yang utamanya gak punya keterampilan menghias, huhuhu *nangis di pojokan*

Bangun jam 2 pagi buat nyiapin 25 porsi, tapi gak keburu...jadinya cuma bikin 20 karena ayah udah mau ngantor. Iyes, yang goreng-goreng, siapin masakan dan cetak-cetak tugas ayah semua, saya tinggal rapiin ^^

sejumlah bento yang siap diedarkan
Isi : 
Nasi unyuuu, resep nasi ungu dari Dapur Hangus tapi gak dibikin uduk..
Nugget ayam homemade, resepnya pabalatak lah ya di google
Telur puyuh diiris, ditusuk
Mie goreng telur 
Sosis goreng
Selada
Brokoli kukus
Wortel-buncis kukus

Satu hal yang masih mangkel : sosisnya gak mekaaarrr, ini pasti gara-gara ayah ngegorengnya massal kaya goreng kacang, etapi bersyukur juga sih ayah mau kerjabakti ngerjain proyek hore-hore ini.

Snack

Disponsori oleh Nestle, Kraft foods dan Frisian Flag, hahahaha *kecup mak Rey*

ada dua gambar bungkus, yang satu Jungle satu lagi gambar Cars
Isi :
Biskuat
Hello Panda
Koko Krunch
Susu bendera Yes
Susu bendera kenyot
Tango Waffle
Choco Loli / Choco Balls, yang ini homemade
Vanilla cupcake sprinkle ungu, homemade juga

Maunya ya, maunya isi snack makanan sehat gitu. Tapi apa siiih, standarnya kan relatif yaaa. Mungkin susu berperisa dan jajanan warung itu tidak sehat dan bikin batuk, okaayy trus apa yang bisa 'dibungkus' sebagai makanan sehat? shud i make, errr...salad buah potong aja mungkin ya? biar aman bok. Jadi kalo isi gudibeg ini dianggap 'junkfood', maka biarlah saya diganjar label 'pengkhianat milis' :D

choco loli / choco balls
Choco loli/choco balls itu karangan saya semata, resep aslinya Coklat biskuit loli, tampilannya cakep banget. Tapi saya segera sadar bahwa mencetak biskuit di cetakan coklat itu susah jenderal, lama pula, jadiiiii, cukup dibulat-bulat saja, tusuk. kemudian celup coklat, tabur sprinkle. Karena waktu berjalan cepat sementara banyak iklan berdatangan (ya nyusuin lah, boboin-mandiin anak-anak, gangguan recok dari yang ultah) maka sisa coklat langsung dicetak aja ga pake biskuit-biskuitan. Tadaaaa, dalam beberapa jam sudah diproduksi 30 pcs coklat beda-beda, ceritanya biar tiap anak bisa cerita eh kamu dapet coklat apa? aku dapet yang loli, yang lain dapet yang bola... *padahal mah nyetaknya gak keburu*

cupcake unyuuuu
Vanilla cupcake ini nyontek resepnya dari Joy of Baking, menggoda iman banget kan tuh cupcakenya (yang di JoB loh, bukan yang buatan saya). Ini pertama kalinya saya bikin cupcake pake frosting, jadi beneran amatir banget deh, itu juga pake acara gosong, gak ngembang. Cupcake yang dibagiin lebih kecil, diameter 3cm, ini bukannya pelit loh tapi daripada gagal terus, bikin lagi, gagal lagi ngabisin bahan mending cari yang relatif cepet dan aman. Hasilnya memang lebih baik yang 3cm, cakenya ngembang dan ngefrostingnya juga lebih mudah. Btw, ini frosting pake buttercream + pasta anggur. 

Rasa gimana rasa? hmmm not bad padahal, tapi Arraf cuma suka jilat-jilat frostingnya doang T___T

Kenapa tema warnanya ungu? gak kenapa-kenapa sih, menyesuaikan sama warna nasi aja gitu biar matching. Tadinya mau sengajain nyari isian snack yang warna ungu-ungu juga macam tango waffle ungu, richeese blueberry, susu rasa anggur dsb tapi rempong yaaahh, anak kecil mana peduli warna yang penting makanan banyak sikaaatt.

Trus, belum tiup liliiiiinnn...eeeaaa, anaknya keburu liburan ke Bandung. Nanti aja deh beli Harvest ya nak, biar difotonya tjakep terus ngakuin itu bikinan ibu :))

Dec 7, 2012

on two years


It's December 7, and my son is turning two today... 

Beberapa hari menjelang dua tahun, emang ujian (buat emak)nya berat banget. Jelas cari perhatian banget, nangis sampe teriak-teriak, nangis dibuat-buat, pengen sambil dipangku ditemenin main ikan (Feeding Frenzy), habis itu ganti main burung (Angry Birds) gak nyampe 3 menit minta pindah main ulat (Galapagos), bangun tidur nangis, makan pengen disuapin ayah, cebok mau sama ayah, ibu harus bobo terus di sebelah buat bacain cerita sambil dipeluk-peluk, pleus....minta nenen terus-terusan, yang tadinya cuma nen sebagai pengantar tidur siang-malem aja, sekarang minta juga di luar jam-jam tidur, saingan sama adenya. 

Subhanallah banget yaahh... 

Menguras emosi, pasti...Arraf belum bisa atur emosinya sendiri, emaknya juga bingung atur emosi yang keluar. Kita sama-sama belajar mengendalikan emosi sendiri. 

Dua tahun, jelas Arraf bukan bayi lagi. Waktu masih gendong-gendong secara manusiawi pengen juga liat Arraf cepet mandiri, bisa jalan, bisa lari, makan sendiri, ngoceh-ngoceh lucu bin kepo. Sekarang semua udah tercapai, saya kangen gendong Arraf lagi...

Ahh, human grows up. Masih banyak PR di usia 2th ini, maka dari itu saya berdoa semoga Arraf bisa semakin mandiri, cepat belajar mengerjakan sesuatu tanpa sedikit-sedikit minta dibantu. Bisa buka-pake baju sendiri, ngancingin baju sama pasang apron sendiri (eh, itu mah iklan susu yak?). Bisa lebih rapi lagi makan-minum sendiri.

Pernah denger, kalo merasa anak belum mandiri juga...itu mungkin kitanya yang gak percaya sama kemampuan anak sendiri jadi semua masih kita urusin. Jeblak! namparabis.    

Semoga Arraf juga bisa beradaptasi sama lingkungannya. Saat ini dia masih soliter dan jago kandang. Semoga di tahun ke depan Arraf lebih bisa ekspresif dan adaptif lagi bersosialisasi. Kalo saya liat nih, meskipun suka didorong atau dirangkul sama anak lain, Arraf gak pernah balik dorong atau mukul, paling dia melepaskan diri trus menghindar, ini patut dipertahankan, sikap tidak suka kekerasan, baik hati dan menyayangi sesama. Tapi ya ada rasa sedikit khawatir juga kok anak gw diem aja yah digituin, ga agresif sama sekali, takut dibully :'( (oh gw lebay yah, maap deh..) 

Kok ini mah lebih harapan pada lifeskill yah? ya gapapa, walopun PR mempersiapkan lifeskill ini ada pada pundak emak-bapaknya, doanya adalah semoga diberi kelancaran pada prosesnya.

Pinter, sholeh, baik, nurut, itu mah udah pasti didoakan....dengan sering mendengar komentar dan pujian, semoga gak menjadikan Arraf tinggi hati melainkan jadi motivasi. Semoga kepala tetap tertunduk seiring dengan bertambahnya kecerdasan dan kemampuan diri. Semoga diberi kerendahan dan kelapangan hati dalam menghadapi tantangan ke depannya.

Satu lagi, semoga Arraf jadi anak yang mudah berbagi dengan saudara dan sesamanya. Rukun dan damai bersaudara sama adiknya. Amiin, insya Allah.  

Dua tahun ini milestone, gak lama lagi saya harus siap melepas Arraf ke area lebih luas lagi alias sekolah. Akan ada lebih banyak sosialisasi, tantangan, pengaruh, dsb. Apa Arraf sudah siap? atau justru saya yang belum siap? kapan kita tahu kalo udah siap?

Well, "we never know, but when they know, you know..." kata dude Crush di Finding Nemo :')


Hari Pertama

Ini puasa hari pertama kami. Dimulai dari sahur yang mepet karena tidur kemalaman dengan menu seadanya.  Puasa itu sederhana, nak. Menaha...