Pages

My Breast(feeding) Journey



Ada dua momen menantang yang saya boldmark dalam perjalanan menyusui saya selama hampir 2 tahun ini. 

Tantangan yang pertama datang di saat si kakak Arraf usia 9 bulan, di mana stok asip tidak lagi melimpah ruah. Kami terpaksa mendadak harus terpisah, kakak di titipkan keluarga di Bandung sementara saya bekerja di Jakarta. Otomatis, saya - kakak - suami, berada di tiga kota yang berbeda, berjuang dengan caranya masing-masing. 

Bekal pertama kakak cuma ada 16 botol asip, untuk ditinggal selama 3 x 24 jam sebelum saya pulang lagi ke Bandung membawa hasil perahan di Jakarta. Secara perhitungan kasar jumlah ini tidak mencukupi, apalagi ini kali pertama saya berpisah sama kakak, pasti sama-sama berat, bisa jadi dia membutuhkan lebih banyak asip untuk mengobati kangennya sama saya. Tiga hari kemudian pulang kerja saya langsung naik bis ke Bandung, membawa cooler bag besar isi puluhan botol asip. Hati saya berdebar karena malam ini saya bisa melihat wajah lucunya sambil menyusu langsung, sepanjang perjalanan saya berdoa semoga kakak tidak mengalami bingung puting, hal yang paling saya takutkan selama long distance ini. Ada kepuasan besar ketika memindahkan botol-botol asip ke dalam freezer, bangga sama kerasnya usaha saya mengumpulkan sejumlah cairan emas untuk bekal kakak. Yang lebih bahagia lagi, ketika kakak menyambut saya dengan senyuman dan pelukan hangat dilanjut dengan tatapan kangen saat menyusu. Subuh menjelang, saya harus ikhlas melepas pelukan kakak di lengan saya, kembali menjalankan rutinitas ke Jakarta, untuk kemudian pulang lagi saat weekend, membawa rizki yang tak pernah henti-hentinya saya syukuri. 

Begitulah rutinitas seterusnya setiap minggu, Senin subuh berangkat, Rabu malam pulang, Kamis subuh berangkat lagi kemudian Jumat malam pulang, bawa-bawa coolerbag. Sudah cukup sering disangka tukang susu murni di kopaja, tak jarang juga asip mencair begitu sampai rumah karena perjalanan yang terlalu lama saat long weekend, dan hasil yang tidak konsisten sudah jadi langganan, akibat load pekerjaan atau efek pikiran, hormonal, lelah dsb. 

Tak terasa kakak sudah setahun, yang artinya sudah empat bulan saya dan kakak melewati proses ini. Tidak selalu lancar, karena ada kalanya saya di sms orang rumah mengabari kalo stok asip tinggal 2 botol untuk semalam mengakibatkan saya harus pulang hari itu juga bawa asip seadanya dan menyusui langsung malamnya. Kakak juga masih menolak UHT, jadi saya masih belum bisa menghela nafas karena pasca setahun ini produksi mulai menurun, padahal frekuensi perah sudah ditambah. 

Alasannya terjawab sebulan setelah saya resign dari pekerjaan, saya positif hamil 9 minggu. Inilah kenapa sejak kakak umur setahun, hasil produksi asip menurun drastis dan menyusui rasanya bikin mual dan sakit.   

Tantangan menyusui kedua dimulai, sejak terus-terusan sama saya, kakak jadi bingung botol, tidak mau asip, tidak mau campur UHT, maunya menyusu langsung sama saya. Satu sisi bahagia, karena saya bisa terus bersama kakak tanpa batas jarak dan waktu, menyusui sepuasnya dan menyaksikan pertumbuhannya dari hari ke hari. Sisi lain, saya sedikit merasa kecewa, kenapa saat saya bisa full time untuk kakak, sudah keburu hadir adiknya di dalam perut. 

Tapi takdir itu pasti sudah di-desain sedemikian rupa untuk bisa dijalani, bukan? maka, pastilah ada jalannya. 

Ketemu tulisan mak Kirana yang ini, duh..saya bangeett! Alih-alih mensupport untuk makan lebih sehat karena ada tiga badan yang ditanggung, keluarga besar sibuk menyuruh saya berhenti menyusui kakak, alasannya ASI sudah jelek, basi, bikin anak bodoh, manja dan cacingan. Setiap kali kakak 'ketahuan' menyusu, selalu disuruh berhenti, dikata-katain " Udah dong nen nya, kasian nanti habis buat dede bayi. " Lama-lama saya capek juga dengernya, kok jadi kakak yang harus dikorbankan sih, kan kakak masih dalam masa menyusui, ASI masih jadi haknya setidaknya sampai 2 tahun. Saking jengahnya saya jadi sembunyi-sembunyi kalo menyusui kakak di depan keluarga, gak tega membiarkan kuping kakak dengar sugesti-sugesti seperti itu. Suatu saat saya ditanyai ibu, " Sudah mau punya adik, si kakak kurus dong sekarang? " katanya hal itu lumrah terjadi karena biasanya mamanya sibuk ngurus diri sendiri dan bayi baru, jadi kakaknya terabaikan. Duh, ini bayinya aja belum keluar kok kakak udah dituduh kurus aja siiihhh...?? 

Cobaan terus berdatangan seiring kakak mulai berlari, belajar bicara dan semakin besar rasa ingin tahunya, otomatis dia gak segendut waktu bayi. Pertumbuhan BB kakak stagnan, kalau lagi sakit langsung kelihatan kurus, pas lagi banyak makan gendut lagi, sayangnya orang lebih suka lihat kekurangan orang lain ya, jadi yang disorot hanya pas kakak kurus saja, dibilang kasihan gak keurus emaknya yang lagi hamil dan semakin menguatkan opini kalau ASI selagi hamil itu sudah gak ada gizinya. Terlebih lagi, pada trimester pertama nyeri payudara sangat membuat gak nyaman ketika disusui, perubahan hormonal juga bikin saya sering marah-marah karena lelah atau banyak pikiran. Segunung rasa cemas dan bersalah menghantui hari-hari saya, tiap malam menyusui sambil berurai air mata, akankah saya sanggup memberi hak keduanya? 

Tiga Obgyn yang saya tanyai sambil kontrol kehamilan membolehkan saya tetap menyusui tapi dengan sejuta syarat : tidak pernah mengalami keguguran sebelumnya dan pastikan tidak ada keluhan kontraksi atau flek. Puncaknya saya disarankan untuk berhenti sampai usia kehamilan 5 bulan, meskipun gak ada indikasi apa-apa. Itu artinya si kakak masih 17 bulan dan saya amat belum siap untuk menyapih. Tadinya saya berharap kakak mau self-weaning, tapi walaupun frekuensi menyusunya sedikit berkurang, dia cuek saja dengan perubahan rasa dan kuantitas asi saya. Hingga saat hamil 7 bulan, asi saya berubah jadi kolostrum lagi, kakak kembali menyusu dengan lahap, rasanya ingin tertawa bahagia tapi sambil meringis ngilu. 

Suatu malam di usia kehamilan 8 bulan, kakak susah tidur, inginnya menyusu terus sampai saya kelelahan dan mulai merasa perih di puting. Saya bilang sama kakak, " Udah dong kakaknya bobo, ibu capek..", seketika itu juga kakak melepaskan hisapannya, diam, hanya menempel-nempelkan payudara ke pipinya sambil bilang " Kasian...dede bayi.." Ohh, tidaaakk! I'm melting. Bukan maksud saya menghentikan kenyamanan kakak, duh..rasa bersalahnya berkali lipat. Ini pasti secara nggak sadar dia mendengar sugesti orang-orang waktu itu tiap kali dia menyusu. Saya dekap kakak, menawarkan kembali kenyamanan yang mungkin masih dia butuhkan saat ini. Sadar bahwa ini saat-saat terakhir kakak memiliki saya seorang diri, saya bertekad terus menyusui kakak sampai waktunya dia menyapih dirinya, kalo perlu tandem saat adiknya lahir nanti, lanjut deh.. 

Semua artikel dan forum mana saja yang membahas nursing while pregnant atau breastfeeding during pregnancy hingga tandem nursing saya pelajari betul-betul, memastikan bahwa langkah saya untuk terus menyusui kakak itu aman, baik bagi kakak, adik, maupun diri saya sendiri. Jangan sampai ada kasus kecolongan karena kurangnya pengetahuan saya. 
     
Kedua kutipan dari Babycenter dan Kellymom ini jadi pegangan saya selama ini; 

" Some moms are concerned that nipple stimulation during breastfeeding will lead to premature labor. Nipple stimulation does trigger your body's production of the hormone oxytocin, which helps with milk letdown and also plays a role in the contractions you have during labor. Fortunately, the amount of oxytocin released isn't enough to stimulate labor under normal circumstances. "

- Jan Barger, Lactation Consultant

When the subject of breastfeeding during pregnancy comes up, it is often said that the mother’s body gives first to the fetus, then to the nursling, and then to her own reserves. This may unintentionally be a bit misleading. First, we do not know how nutrients are partitioned between placenta and human milk production during times of nutritional stress. And secondly, you could take this to mean that your body will provide for your children to your own detriment. There is no reason to believe this is true for well-nourished mothers.

– Hilary Flower in Adventures in Tandem Nursing, p. 249

So, kunci dari semua jawaban atas tantangan ini adalah : Percaya diri, bahwa tubuh sudah punya mekanisme sendiri untuk mendistribusikan gizi sesuai yang dibutuhkan dan memproduksi cukup asi untuk newborn maupun batita yang sedang mengalami pertumbuhan. Yakinlah Allah sudah mengatur semuanya, tidak mungkin ada yang dirugikan atas kehendakNya. Selain itu, menyusuilah dengan keras kepala dan pengetahuan yang memadai. Yes, breastfeeding is worth fighting for. Enjoy and have no worries :)


3 comments:

  1. dramatis banget teh ceritanya.. semua ibu pasti tau ko yang terbaik buat anaknya... eh btw liat arraf di foto2 sebelumnya ko keliatan lebih dewasa ya.. hihihi.. bawaan jadi kaka kayanya ya.. hehehe...

    ReplyDelete
  2. haha masa sih, kurus kali jadi kaya tua..wakakaakk. ah lieur ah ne liat timbangan, bikin setres..nu penting sehat lah :))

    ReplyDelete
  3. sy masih menyusui anak pertama sy wkt hamil yg kedua.. kemudian menyusui tandem.. Emang byk sih yg minta sy brenti.. Tp kenyataannya anak2 sy gak kenapa2 kok.. Jd sy terus lanjut sp waktunya yg pertama sy sapih di usia 2,5 th :)

    ReplyDelete

 

Blog Template by BloggerCandy.com