Pages

4 dan 7 bulan

Sejak 5 bulan tinggal di tempat baru ini, minimal sebulan sekali kebagian besek nasi kotak + kue dari tetangga yang selametan. Syukuran rumah, sunatan, lahiran, akikahan, cukur rambut bayi, ulang tahun, empat atau nujuh bulanan, kayanya separo momen-momen dalam hidup dirayakan dengan ngadain selametan, mau cuma bagi-bagi makanan atau ngadain pengajiannya sekalian.

Baru-baru ini dapet besek dari tetangga depan yang 4 bulanan. Aduh, jadi kesindir..saya 4 bulanan gak ngapa-ngapain, malah bisa dibilang baru agak sering keluar rumah. Dulu, waktu di Bandung, mertua juga ngadain 4 bulanan saya hamil Arraf, pengajian biasa, makan-makan, berdoa trus udahnya kita dibekelin sebotol air yang udah didoain yang mana air tsb masih ada aja sampe sekarang dibawa-bawa ke rumah sini, suruhnya sih diminum/dipake mandi...aduh, udah butek..udah dua taun lewat lah. 

Memang, hadits/dalam Al Qur'an dijelaskan, bahwa ruh mulai ditiupkan ke dalam janin setelah 120 hari atau 4 bulan. Maka artinya di dalam rahim mulai tumbuh kehidupan baru, cikal bakal manusia beserta takdir hidupnya. Gak ada salahnya sih didoain, doa itu kan permohonan atas keinginan kepada yang Maha Mengatur Kehidupan, jadi berdoa yang baik-baik tentunya memohon supaya si jabang bayi ini kelak diberi kehidupan yang baik-baik juga. Doa orang tua saja udah pol, apalagi ditambah doa kerabat, tetangga dan sanak saudara. Konon, semakin banyak yang mendoakan, doanya semakin didengar. Tapi, bukankah Allah itu Maha Mendengar suara sekecil apapun, satu-dua orang, doa semut, bahkan suara hati yang tidak ada bunyinya sama sekali? :)     

Sekarang, usia kehamilan saya udah 31w. Gak juga ngapa-ngapain di 7 bulan. Kepikiran juga enggak. Padahal 7 bulan ini heboh ya, dicanangkan sebagai momen boleh belanja-belaja. Padahal dari 3 bulan juga boleh loh, seadanya duitnya aja..mau ditumpuk nunggu 7 bulan juga monggo, kalo saya sih gak bisa..pasti kepake, hehe. 

Berangkat dari 'kesadaran' bahwa saya gak ngapa-ngapain di umur kehamilan 4 atau 7 bulan, sambil makan naskun 4 bulanan tetangga itu, saya sama ayah sempet diskusi. 

Saya : yah di sini asa sering banget terima nasi kotakan ya..kita sendiri belum pernah kirim-kirim
Ayah : iya, rumah juga kita gak selametan. Sekarang juga ibu 7 bulan kan ga ngapa-ngapain?  
Saya : iya, 4 bulan juga enggak 
Ayah : nanti ajalah aqiqahan dede, ambil yang wajib-wajib aja
Saya : iya


Trus karena penasaran saya googling juga, sudah benar kan tindakan kita sekarang ini, atau jangan-jangan ada rukun yang kita lupakan? Terus terang, karena keluarga saya juga gak mengenal tradisi selametan ini, jadi selama ini gak terlalu naruh concern juga sama hal-hal seperti ini.   

Dari banyaknya sumber yang dibaca, di blog Al Muslimah ini, saya dapet sumber pencerahan  

Ibnu Taimiyah rahimahullâh ketika membahas tentang perbedaan ibadah dan adat, beliau berkata: “Pada asalnya ibadah itu tidak disyari’atkan untuk mengerjakannya kecuali apa yang telah disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan adat itu pada asalnya tidak dilarang untuk mengerjakannya kecuali apa yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hambal dan para imam yang lainnya: Asal kesesatan pada penduduk bumi sesungguhnya tumbuh dari dua perkara berikut:

Mengambil agama dari apa yang tidak disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mengharamkan apa yang tidak diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Iqtidha’ Shirathal Mustaqim oleh Ibnu Taimiyah, juz 2, hal. 584 bersama tahqiq)

Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh orang tua, bahwasanya seorang anak bisa tetap menjadi manusia yang baik selama fithrahnya terus dijaga dan dididik dengan tarbiyah islamiyah yang shahihah. Karena itu bila orang tua mendambakan agar anaknya kelak menjadi “manusia yang baik” dalam arti yang sebenarnya, maka hendaklah mereka mulai dari diri mereka sendiri, menyiapkan diri, berbekal ilmu dan amal.

Pada sumber lain, dari NU, saya nemuin ini  : 
Syiar Islam pada prinsipnya selalu menyikapi tradisi lokal masyarakatnya, yang sebagian di antaranya dipadukan menjadi bagian dari tradisi Islami. Prinsip itu didasarkan atas suatu kaidah ushulliyah, yang berbunyi; “Menjaga nilai-nilai lama yang baik, sembari mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.” 

Islam sendiri menganut suatu fikih yakni pengakuan terhadap hukum adat. Hukum adat yang dimaksud adalah adat jamaiyyah yakni suatu kebiasaan yang dilakukan sekelompok orang secara berulang-ulang. 

Ritual 4 bulan masa kehamilan oleh masyarakat Jawa ini, ditandai dengan upacara pemberian makan yang salah satu menunya adalah ketupat. Agaknya ritual ini pun tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Asia Tenggara. Dalam Islam, ritual Ngapati didasarkan atas hadits yang berbunyi; “Bahwa pada masa usia 120 hari dari kehamilan atau 4 bulan, maka Allah meniupkan roh kepada janin dalam kandungan. Sementara ruh ditiupkan, pada saat itu ditentukan juga rezeki dan ajalnya.”

Tiga bulan kemudian tepatnya di usia kandungan 7 bulan juga diadakan ritual yang oleh masyarakat Jawa disebut Mitoni atau Tingkepan.  Dipilihnya bulan ke-7 masa kehamilan disebabkan karena bentuk bayi pada usia itu sudah sempurna. Bentuk upacaranya sama dengan Ngapati yakni berupa sedekahan dan penyampaian doa-doa agar bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.

Jadi, adat --yang kemudian sekarang disebut selamatan-- 4 bulan atau 7 bulanan itu asal mulanya dari tradisi 
setempat (gak cuma Jawa, tapi suku Bone di Sulawesi juga ada dan pasti ada versi lokal masing-masing daerah), tujuan semulanya mengusir si jabang bayi dari gangguan roh-roh jahat dengan cara melakukan sejumlah ritual (yang berbeda-beda, tergantung adat masing-masing). Selain itu, tujuan jangka panjang dari berbagai ritual simbolis itu bermaksud pada kehidupan di kemudian hari sang anak, baik untuk jodoh, rejeki dan nasib hidup (yang mana, ketiganya ini disebut TAKDIR, dan sudah ada garisnya dari awal mula penciptaan sebuah janin). 

Belakangan, setelah islam masuk, adat dan agama mengalami akulturasi. Tradisi merayakannya tetap dijalankan, mungkin karena sudah mengakar dan rasanya gak klop kalo ada ibu hamil gak ada selametan apa-apa, sekarang isinya sudah dimodifikasi dengan syariat islam seperti berdoa, berdzikir, baca quran, bagi-bagi makanan, dsb. Ritual yang tersisa? mmm, kayanya pentransferan doa-doa pada sebuah benda itu deh, ya dalam hal ini air, yang kemudian digunakan buat mandi atau minum si bumil. Logikanya, doa bisa nyampe tanpa ada media nyata karena benda mati jika dianggap suci atau keramat, walaupun dia mengandung doa-doa jatuhnya tetep musyrik, IMO. Tentu beda ya casenya dengan Al Qur'an yang berisi kalam Allah.. *oot, talk about this later* 

Kedua sumber di atas jelas punya argumen yang berbeda, tapi basicnya sama yaitu syariat islam..tujuannya pun sama, untuk kebaikan bagi anak yang dikandung. Tapi dari keduanya, saya menyimpulkan bahwasanya wajib hukumnya meyakini bahwa janin yang dikandung itu sudah ada garis takdirnya dari awal, akan selalu dijaga dan dilindungi oleh Allah dan diciptakan dengan sesempurna mungkin oleh Sang Pemilik, dengan atau tanpa intervensi dari manusia lain di bumi. 

Ditinjau dari syariat, agama itu adalah apa kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Acara tujuh bulanan tidak ada dan tidak pernah dikenal dalam syariat Islam yang diturunkan kepada Rasul. Seandainya itu baik, tentu yang paling pertama mengerjakannya adalah para shahabat Nabi, yang mereka itu adalah orang-orang yang paling bersegera dalam kebaikan dan telah dipersaksikan kebaikan mereka oleh Allah dan Rasul-Nya. 

Saya bukan bilang bahwa ngadain acara selametan dsb tidak baik, no..please, open mind widely. Kan adat itu tidak dilarang dilakukan, sepanjang tidak melanggar syariat agama. Jika hanya ingin bagi-bagi besek ke tetangga dalam rangka bersyukur, tanpa ada pengajian monggo aja, menyenangkan tetangga tentu dapat pahala. Ditambah dengan pengajiannya boleh juga, itung-itung ngajak lingkungan berdoa bersama-sama, ya tentu isi doanya bisa doa pribadi juga sih, gak harus mengorbit pada si jabang bayi juga. Kalo cukup berdoa sendiri saja, di rumah, dengan keluarga, baik juga..karena Allah mendengar dan menghargai doa dan usaha sekecil apapun.  

Yang perlu diingat adalah bahwa tradisi selametan kehamilan itu adalah adat, bukan syariat..dan jangan dibuat menjadi syariat. Untuk itu, kalo ada tetangga yang gak ngadain ini itu gak perlu dicap gak bersyukur, pelit atau dianggap gak ngerti agama, ya mungkin alasannya memang merasa gak perlu karena tidak disyariatkan, bisa juga merasa perlu tapi gak ada biaya.   

Alhamdulillah, setelah dapet pencerahan ini, saya yakin sama tindakan yang kami ambil. Kebetulan saya sama suami memang gak fanatik dengan adat tradisi. Sungguh Islam itu agama yang sangat memudahkan.   

Trus kan ada babyshower juga ya kalo di tradisi barat gitu? googling lagi aahh...buat wawasan aja :D 

9 comments:

  1. yg penting do'anya ya mbak.. supaya persalinannya nanti lancar.. amin..

    ReplyDelete
  2. sama Rel, aku waktu Vio juga sering banget selametan. tapi asyik lho dapet besek ga usah masak hihi...

    ReplyDelete
  3. hai rel...diriku jg ga ngapa2in waktu hamil kemarin.
    Jalanin yang wajib aja kekah....hehehe
    Lancar terus sampe due date ya

    ReplyDelete
  4. Setuju mbak, saya juga sering ngomong, ga menentang acar adat, tapi jangan bilang itu perintah agama, krn sering acara adat mengatasnamakan agama....

    ReplyDelete
  5. Setuju bgt mbak,jangan mengatasnamakan agama kalo cuma acara adat nanti disangka wajib padahal g ada dari sono nya

    ReplyDelete
  6. Setuju bgt mbak,jangan mengatasnamakan agama kalo cuma acara adat nanti disangka wajib padahal g ada dari sono nya

    ReplyDelete
  7. yang penting doanya ya mak, mau ngadain ato nggak toh yg lebih berkewajiban ngedoain itu ayah bundanya.

    nice share, mak.. :)

    ReplyDelete
  8. Sholat isinya kan doa, itu saja di syariatkan islam lebih baik berjamaah daripada sholat sendiri, sama juga dengan acara 3 bulan 7 bulan etc, bila kita sudah yakin doa kita akan langsung didengar gak ada maslah kita sendiri, tp bila kita sadar bahwa doa seseorang ada yang langsung di hijabah atau ditunda, maka dengan kita mengundang saudara tetangga atau bahkan kyai/ulama maka akan lebih baik. Siapa tahu diantara orang yang kita undang ada seseorang yang benar2 tawadu' hingga doa kita langsung di hijabah Allah swt.

    ReplyDelete

 

Blog Template by BloggerCandy.com