Pages

fulltime 'W'

Ternyata saya nggak pernah suka kerja. Padahal saya baru 2 tahun jadi wanita karir, waktu yang belum cukup menempa seseorang jadi apa-apa, masih anak bawang banget. Dan saya sudah mengalami kehilangan feeling untuk mengerjakan itu. Mengerjakan kerja. Pekerjaan. Bekerja.

Umur saya masih kelewat muda untuk mengajukan pensiun dini tentunya. Bahkan teman-teman saya masih banyak yang berkutat dengan kampus. Tua di kampus. Sedangkan rekan-rekan di kantor rata-rata pada masa middle ages. Masa kemapanan. Sukses cicil ini cicil itu, beli sana beli sini.

Sumpah. Saya tidak merasakan enjoy-nya bekerja. Waktu single juga saya gak rajin-rajin amat kerja. Biasa aja. Lebih suka menulis (tapi tidak untuk bekerja apalagi dipaksa menulis), lebih suka memasak (bikin kreasi masakan buat disajikan ke orang-orang). Apalagi setelah menikah, rasanya feeling buat melepaskan pekerjaan kuat banget. Saya lebih bertekad jadi istri yang hebat dibanding jadi karyawan teladan. Ah, entahlah...sebut saya tidak punya ambisi atau tidak punya keinginan.

Saya punya keinginan kok; jadi full time housewife.

Mungkin pekerjaan selama ini belum membuat saya puas. Entah itu lingkungan, jabatan, atau gaji per bulan. Yang jelas, hingga detik ini saya pun masih belum tahu kenapa saya masih bertahan bekerja. Untuk cari uang mungkin? Bisa jadi...karena kebanyakan uang gaji saya hanya transit sebentar di rekening, lalu ludes. Belanja, traveling, atau sekadar makan-makan enak.

Jadi ingat waktu mau menikah, dari awal bertekad untuk menyisihkan sekian rupiah untuk tabungan pesta. Kalo nggak salah, jumlahnya setengah dari free money (free untuk dikonsumsi setelah dikurangi kost, transport dan makan). Tapi ujung-ujungnya tetep aja, ya nabung, ya persiapan juga. Jadi setiap gajian langsung dipake buat DP ini itu, bayar ini bayar itu. Dalam 5 bulan begitu terus, alhasil setelah menikah benar-benar nggak pegang uang sama sekali. Pegangan satu-satunya cuma angpao, itupun mulai dikeruk perlahan-lahan.

Atau saya cari eksistensi? Mungkin juga. Dengan bekerja, saya bisa punya banyak teman, punya pergaulan, tau info ini itu, bisa online setiap hari, gratis, hardware gratis, maintenance gratis, tisu, telepon, air minum, semua gratis..tis... Saya eksis. Saya pegang jobdesk. Saya melakukan suatu pekerjaan, meskipun tidak bisa disebut karya otentik dari saya, tapi saya mengerjakan sesuatu. Dan orang lain melihat pekerjaan saya, mau hasilnya cacian atau pujian sekalipun. Orang telah menilai pekerjaan saya. Saya dibayar untuk sesuatu yang saya kerjakan. Saya profesional. Saya eksis, saya ada.

Tapiiii...long weekend kemarin, 3 hari untuk selamanya...saya mengerjakan peran sebagai full time housewife, bangun pagi, belanja ke pasar bareng suami, masak makan siang, masak cemilan buat nonton dvd, nyiapin keperluan berdua. And i found the unexplainable excitement on it!

Mengurus keluarga itu menyenangkan. Walaupun hanya ada suami dan saya.

Dan dorongan buat jadi fulltime housewife ini makin menjadi-jadi ketika menghadapi lagi hari Senin. Senin kelabu, selalu datang ke kantor dengan muka bantal. Masih gak rela ninggalin rumah, ninggalin suami. Masih gak percaya bahwa OMG...this is real monday....dan menggebu-gebu kangen datangnya weekend.
 
Saya bisa memutuskan untuk cabut bulan depan, seiring habisnya masa kontrak kerja. Say bye to this office, forever. Duh, entahlah..saya belum sanggup pulang kerumah dengan tangan kosong. Saya tidak di-doktrin untuk itu...keluarga saya gak bakal mau dengar saya menganggur. Dan itu nyata. Mama mendengar jeritan hati saya. Kata mama, jangan sampe salah satu dari kita gak kerja karena ingin bersama, di jaman yang serba materalistis ini, itu bunuh diri. D'oh!  *sepertinya keputusan saya menikah sudah sangat tepat*
 
Mana yang lebih super: fulltime Working atau fulltime Wife???
 
Bisa dicari solusi mungkin, suami saya pindah kerja dan kita bangun keluarga kecil kita disini. Setiap hari ketemu, bisa antar-jemput, dan saya bisa masak tiap hari. Oh no, jangan-jangan alasannya cuma karena Long Distance Marriage? jangan sampe deh. Jarak kota itu cuma hitungan angka, lubang di hati lebarnya tak terhitung. 
 
Dan inilah saya..voila....tahan 12 jam di kantor dan kembali ke kamar berukuran 3x3 dengan status jomblo hilang arah.

3 comments:

  1. hm..
    aku no comment va...
    orang aku sendiri juga ga tau kemana mau mebawa hidup ini..
    untungnyaaaaaaaaaaa..
    suamiku suami juara..

    ReplyDelete
  2. wahaha..samaa deh kita say, perasaan kaya gitu yang bikin aku "banting setir" cari kerjaan yang lebih fleksibel, supaya lebih banyak waktu dirumah, sambilan nabung supaya bisa punya usaha sendiri..usaha apa aja deh yang penting halal en gak ninggalin rumah en anak2 ( nantinyaa..) hahaha..masihhh jauuuh sepertinya tapi yang penting niatnya udah ada ya!!

    ReplyDelete
  3. @grace n intan: bener banget...niat, tekad...itu kudu dikuatin dr sekarang. meskipun realisasinya masih jauh, bisa 3,4,5 tahun kedepan, persiapannya harus dari sekarang...kalo dinanti-nanti kebanyakan mikir.

    @grace: apa ini juga ya yang bikin orang ogah nikah muda...soalnya bakal kepikiran kaya gini, kalo yang career-minded pasti nolak lah ya mikir kaya kita, hehehe

    ReplyDelete

 

Blog Template by BloggerCandy.com