Nov 29, 2017

Tik Tak Tik Tuk

Aslinya, bingung ini blog mau diapakan...hidup segan mati tak mau. Mau nulis lagi  rasanya bingung juga mau mulai dari mana...lompat-lompat timeline, posting belang betong gak konsisten, mencoreng muka blogger aja haha. Tapi mau hapus akun sayang juga sih, biarpun sederhana dan berdebu, blog ini umurnya udah 8th dan ada banyak kenangan di dalamnya. 

Ah, kita ngobrol santai aja deh, cerita-cerita soal kehidupan yang semakin ke sini, semakin kompleks aja. Semua ada fasenya, waktu anak bayi yang jadi persoalan gak jauh-jauh dari berat badan anak dan GTM, gedean dikit puyeng ama toilet training, makin gede permasalahan meningkat levelnya ke soal biaya masuk sekolah yang bikin jengkang, abis itu pergaulan anak-anak, naik terus ke level berikutnya soal pre akil baligh and then..and then..and then... 

Itu baru soal anak....

Pernikahan yang kian hari bertambah usianya, umur yang tidak lagi muda, juga gak bisa dipungkiri membutuhkan perhatian dan perawatan. Hilangnya hubungan yang meluap-luap di tahun-tahun awal, berganti jadi relasi yang slow down, menerima dengan banyak pemakluman satu sama lain yang kadangkala juga jadi terasa flat karena selama ini fokus sudah tersedot penuh pada kebutuhan anak-anak, lupa bahwa kita sendiri juga butuh penyegaran dan perhatian.      

Masuk usia 30an, saya gak bisa mengelak dari kenyataan adanya kantung mata yang semakin gelap, kerut tipis di ujung mata dan kulit yang mendekati kusam dan kering. Oh, iya..ini emang salah dari awal sih nggak pake perawatan, tapi juga umur gak bisa boong kan? kulit yang berkurang kelembapan itu ya jelas faktor U, seberapapun sering ngolesin Vasline. Nggak percaya liat aja Dian Sastro, bersinar pada masanya, sekarang udah beranak dua, cantiknya gak pudar, tapi kantung mata terpampang nyata. Kantung-kantung ini hasil begadang pas anak sakit, tidur siang terganggu, dan bela-belain melek bacain cerita sebelum tidur ampe pegel, anaknya masih lincah ajaaa...

Itu sih saya ya, bukan DiSast.... kalo DiSast mungkin kantung matanya karena kebanyakan syuting :D 

Kegelisahan makin menjadi tatkala scrolling timeline IG; waw rumahnya keren banget, perabotannya lucu-lucu, lalu kepoin jastip-jastip furnitur dan perabot....duh, ibu ini awet muda banget mukanya mulus, liat-liat kosmetik korea aahh....gilaaa jago amat masaknya, fotonya juga bagus, pingin deh beli perabotan masak yang bagus biar masaknya semangat. Sounds familiar? iya! saya juga sering terjebak pada lingkaran tersebut tapi terus banyak-banyak istighfar deh, karena cuman istighfar dan isi dompet yang bisa mengendalikan kegilaan banyak maunya saya ini.

Dan berhentilah kebanyakan scrolling. 

Ini kelihatan sepele ya, tapi pernah denger soal penyakit psikosomatik, kan? penyakit yang asalnya dari hati, hati yang tidak ikhlas, hati yang masih mengandung amarah, dendam atau emosi yang tidak tersalurkan, bisa itu karena kecewa, sakit hati, ataupun protes dengan keadaan yang tidak sesuai harapan, tidak terima kenyataan. Jatuhnya jadi sering sakit perut, maag, migren, vertigo, darah tinggi, jantungan, apapun....yang terlihat sehat belum tentu benar-benar "sehat". Pemicunya bisa dari apa saja, pasangan, anak, kehidupan, ambisi atau cicilan utang (ye kaaan??)

Kompleks sekali ya hidup, yang begini aja udah jadi pikiran belum lagi tambahan ancaman-ancaman kriminalitas, pergaulan remaja dan efek sosial lainnya yang menghantui anak-anak kita. Duh, kudu pinter menata hati nih biar tetep waras dan berpijak pada kenyataan. Ikhlas adalah koentji. Dengan ikhlas, semua jadi terasa ringan dan bisa fokus pada hal-hal lain yang positif dan bikin kita bahagia. Selalu ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik, tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin. 

Duileh...keliatan makin tua nih, bu rella... Iyalah, blog ini dibuat 8th lalu, daaann...wajar kalo gue terpampang nyata 8 tahun lebih begog dari alay seperti dahulu. 

Yaudah lah, ini blog curahan hati aja. Other sides, saya lagi mengasah beberapa skill, mungkin nggak akan update di blog ini, karena dailyrolla memang didedikasikan untuk hariannya keluarga Rolla.

See ya! 

May 27, 2017

Hari Pertama

Ini puasa hari pertama kami. Dimulai dari sahur yang mepet karena tidur kemalaman dengan menu seadanya. 

Puasa itu sederhana, nak. Menahan diri dari apa yang diperintahkan Allah. Yang membatalkan puasa itu hanya sedikit, maka jalani puasa dengan gembira dan ikhlas. Untuk Allah, Rabb yang memberimu kesempurnaan hidup.

Ramadhan tahun ini tertarget kami adalah untuk kakak, karena tahun depan dia akan masuk usia tamyiz. Beberapa hari lalu, gigi susu pertamanya tanggal yang pertanda dia menuju gerbang mummayiz nya.

Adek sudah menyerah di jam 1, bangun tidur minta susu, ternyata dia kaligata. Saya izinkan dia berbuka, niat baiknya, makan sahurnya, saya apresiasi karena diusianya yang masih 4.8th, dia sanggup bertahan hingga jam 1.

Saya lihat kakak, perhatikan gesture nya, masha allah sabar sekali... sesekali kadang dia lupa mau ambil pisang kesukaannya. "Kalo kaka tidur gimana, bu?" Its okay nak, boleh tidur tapi tidak lupa sholat. Jam 12, jam 3, jam 5, tidak ada keluhan dan permintaan berbuka. Alhamdulillah....anak sulungku berhasil hari ini.


And i'm a proud mommy, semoga langkah kecil kami menjalankan rukun islam kedua ini semakin menjejakkan hati kami untuk taat kepadaNya.

May 22, 2017

Anak Perpus Nih Yee....

Semasa besar di Bandung, saya mulai kenal perpustakaan karena sering ngikutin orangtua atau tante yang lagi kuliah mencari bahan tugas. "Ayo ikut ke perpus, biar tambah pengetahuan...", begitu doktrinnya. Lalu daripada bengong terus ngantuk, ikutan baca buku apa saja yang ada, baik itu judulnya "Fisika Molekul" atau "Ekonomi Mikro", pokoknya biar gak bosen nunggu yang berlama-lama ngerjain tugas. Dapat giliran ke bagian buku anak-anak kalau orang dewasa sudah selesai dengan urusannya. Saat itu, di benak saya, perpustakaan itu tempat baca dan minjem buku, yang entah jangka waktunya berapa lama karena seringkali saya lihat beberapa buku berlabel "Perpustakaan Daerah Kota Bandung" lama sekali nangkring di lemari ibu saya ^__^

Begitu SMP dan bisa pergi sendiri, saya kenal dengan Taman Bacaan dekat sekolah. Taman Bacaan memang tidak 'se-ilmiah' dan seformal perpustakan, kebanyakan juga buku-bukunya cenderung ringan dan populer saja. Tapi kalau jadi "anak perpus" saat itu gak keren (standar perpustakaan sekolah dahulu, koleksi bukunya jadul dan tidak menarik), nongkrong di "taman bacaan" setidaknya terlihat lebih gaul ;p 

Dulu, yang saya sewa masih seputar komik Detective Conan, Shoot atau Offside, memilih komik karena cuma punya waktu curi-curi baca di kolong meja kelas. Kalo saya bawa komik ke rumah, bisa diceramahin ibu sampai sore...hehe. 


Cuman sampe nomor 34 inilah pengalaman "Conan" saya

Yang ini alhamdulillah sampe tamat (kalo gak ada lagi lanjutannya)

Selanjutnya, saya dan teman-teman tertantang untuk safari Taman Bacaan di daerah sekolah lain. Judul komik kesayangan sudah tamat, lanjut ganti genre remaja, Goosebumps dan Fear Street karya RL Stine, anak 90an pasti tau yaa ;) 





Berasa keren banget baca buku serial populer semacam ini, gaya bahasa dan isi ceritanya pun abege sekali, menyesuaikan usia. Pinjam buku selama dua minggu nebeng kartu anggota teman, lupa tepatnya berapa harga sewa per buku saat itu, nggak lebih dari 500 rupiah deh!

Duduk di bangku SMA, saya kembali sering mengunjungi Perpustakaan Kota bahkan sudah duduk manis sedari jam 8 pagi, karena.....kesiangan masuk sekolah :) Sekolah saya termasuk yang ketat sekali urusan disiplin waktu, maka ketika telat 10 menit gerbang besar sudah ditutup, nggak ada kesempatan lagi buat nyelip-nyelip masuk menerobos tiga lapis gerbang. Terpaksa balik kanan dan untuk menghabiskan waktu setidaknya sampai jam 12 siang, saya nongkrong lama di perpustakaan, baca sebanyak mungkin selama waktu berjalan. Untuk ini saya sampai punya binder khusus yang isinya semua "hal-hal penting" yang saya salin dari buku di perpus dari mulai quotation dan fakta-fakta menarik. Catat ya, mabal sekolah ala saya tidak melipir ke mal seperti yang akan dilakukan anak-anak jaman sekarang, hahahaha.

Jaman saya kuliah, saya dan teman-teman memang lebih sering duduk di perpustakaan jurusan saat jeda mata kuliah, nggak selalu baca sih, ngobrol tanpa menyentuh buku satupun juga sering. Emm, boleh lah kalo dibilang anak perpus, walau alasan kami biar ngirit aja daripada nongkrongnya di kantin habis berbotol-botol teh. Kami juga menjelajahi perpustakaan NGO dan lembaga penelitian kalau kebetulan lagi jalan-jalan ke Jakarta. Fotocopy is the best way, untuk buku-buku bagus yang tidak bisa kami pinjam, dan tidak sanggup kami baca selesai saat itu juga, maafkan soal pembajakan ini :(

Tahun-tahun 2000 ke atas juga banyak bermunculan library-cafe dengan wifi hotspot biar nongkrongnya rada intelek, walau tetap saja...lebih banyak ngobrolnya ketimbang bacanya. Zoe Comic Corner di Jalan Pager Gunung adalah salah satu tempat mangkal saya buat baca-baca, janjian ketemu orang, atau sekadar ingin menyendiri saat galau.  

Mau lebih ringan lagi, cukup bolak balik majalah saja sambil nyeruput es teh manis, or else, bawa laptop segede gaban, pesan minum, dan internetan sepuasnya alias gak baca buku sama sekali, bro.. :D

Senang rasanya mengetahui bahwa saat ini di berbagai kota di Indonesia, dibangun perpustakaan yang memadai baik milik swasta maupun pemerintah. Kalau dulu, perpustakaan identik dengan gedung yang kaku, buku-buku yang berdebu dan berantakan, perpustakaan jaman sekarang secara interior sudah jauh lebih nyaman dan keren--untuk selfie, penataan buku yang lebih rapi dan koleksi kepustakaan yang up to date.

Ini bisa jadi salah satu pemacu kenaikan tingkat literasi Indonesia yang katanya masuk di peringkat buncit dunia, sedih ya... :(

Setelah hampir 5 tahun tinggal di Malang, saya baru mengajak anak-anak ke perpustakaan Kota setahun belakangan ini, sebagai alternatif weekend kita selain taman kota dan wisata alam. Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang terletak di lokasi yang sangat strategis di tengah kota dan dilalui banyak angkutan umum, jadi seharusnya nggak bakal males karena alasan jauh dan susah transport.

Gedung perpustakaan terdiri dari tiga lantai, lantai satu untuk registrasi keanggotaan, ruang anak-anak dan hall kecil di tengah gedung untuk mengadakan workshop atau bedah buku. Lantai dua terdiri dari ruang sirkulasi (peminjaman dan pengembalian), ruang multimedia, ruang referensi dan ruang koleksi buku teks umum. Sedangkan lantai tiga difungsikan sebagai hall serbaguna yang lebih besar.

Untuk berkunjung dan membaca saja, perpustakaan ini bebas dikunjungi masyarakat secara umum, tidak perlu registrasi atau mengisi daftar tamu. Tersedia locker penyimpanan barang dengan kunci, yang, pada hal ini, handbag ala emak-emak pun harus dititipkan. Alhasil bagian ini agak repot karena harus nenteng dompet, hp plus charger, tambah lagi kalau sekalian bawa alat tulis.

Kebetulan, tiap ke sana, saya nggak pernah punya kesempatan mampir ke bagian umum karena selalu sama anak-anak. So i cannot give you any hints about general collections, kapan-kapan mau mampir sana kalau pas pergi sendiri.

Ruang baca anak-anak di sini tidak terlalu besar, tapi koleksinya sangat mumpuni dengan kebutuhan literasi anak-anak. Buku-buku tersusun rapi sesuai kategorinya (dan segera dibereskan petugas bila ada buku yang nyelip di rak kategori lain). Ada kategori komik, buku referensi, fiksi (novel atau buku cerita), buku aktivitas, dan play book. Judul-judulnya pun cukup up-to-date, alias buku yang rilisnya maksimal 5th ke belakang, artinya, konten di dalamnya tidak ketinggalan zaman sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.






Interior ruangan ini juga nyaman dan eyecatching banget buat anak-anak. Dinding yang dilukis gambar menarik, kursi baca warna-warni dan tersedia juga beberapa unit komputer untuk browsing, dan LCD tv untuk memutar video peraga. Bikin betaaahh berlama-lama baca atau membacakan buku buat anak-anak, AC di beberapa titik mengeluarkan udara yang cukup sejuk dan ada beberapa charging port buat mama-mama yang agak mati gaya (mungkin sudah terlalu addicted dengan handphone - iya, seperti saya juga)

Sisi lain yang menyenangkan, terdapat playground buat anak-anak batita yang kelakuannya masih "mengkhawatirkan" dengan buku. Playgroundnya pun nyaman banget dengan karpet puzzle, ruangan sejuk dan terang, tersedia beberapa mainan edukatif, ayunan, perosotan. Betapa cocoknya tempat ini buat mengasuh anak secara murah-meriah-manfaat.



Oh iya, di sebelah ruang anak-anak, ada nursing room yang cukup besar dan memadai dengan fasilitas lengkap ganti popok, wastafel, dsb. 

Untuk jadi anggota perpustakaan ini, cukup mendaftar dengan memberikan fotocopy ktp (boleh kota atau kabupaten Malang). Prosedur registrasinya secara online, langsung dapat nomor anggota, difoto lalu kartu anggota jadi sekitar 30 menit. Lama peminjaman buku sekitar 7 hari. All free. 

Hal lain yang menyenangkan dari perpustakaan ini adalah, setiap harinya buka sampai malam dan weekend tetap buka! Ini terobosan bagus banget buat para pekerja yang butuh refreshing sepulang ngantor, buat anak-anak sekolah yang sorenya mau tambah wawasan, buat working moms yang pingin bawa anak ke sini, dimana weekend yang biasanya dihabiskan di mall atau keluar uang banyak buat makan, ini ada alternatif hemat dan edukatif buat anak-anak. Jadi bisa ya, ibu-ibu, #WeekendTanpaMal ? :) 

Sering ke sini? definetely, yes! anak-anak senang, dompet aman. 

Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang 
Jl Besar Ijen 30A, Malang 


Jam Layanan Perpustakaan normal
Senin s/d Jum'at : 08.00 - 20.00 WIB
Sabtu : 09.00 - 20.00 WIB
Minggu : 09.00 - 20.00 WIB
Hari Libur Nasional : TUTUP

Apr 27, 2017

Candi Singhasari (1300M)

My rewrite post from Jejak Katumbiri , visit the page for many references ya :) 

Jalan-jalan mengunjungi situs sejarah memang tidak seglamour seperti city icon yang ramai dan nge-hip. Hawanya sepi, sunyi, hanya benda-benda purbakala yang berbicara tentang masa lalu, masuknya saja kadang gratis, demi menarik massa. Bagi saya, candi atau stupa tiada lain mengingatkan pada pelajaran sejarah di sekolah yang penuh dengan hafalan nama, tahun, tempat dan kejadian. 

Dalam kisah sejarah nusantara, terdapat sejumlah nama besar raja-raja berikut peninggalan kejayaannya, tidak lupa bumbu-bumbu drama pengkhianatan, cinta segitiga, kesaktian seseorang hingga memunculkan legenda dibalik penciptaan fenomena alam seperti air terjun, danau atau situs historis lainnya. 

Menarik? sejarah selalu menarik, tapi tidak dengan ilustrasi serial silat yang ada di tivi. Sorry to say.

Tersebutlah Candi Singosari, satu dari enam atau tujuh sisa peninggalan sejarah yang tersebar di wilayah Malang Raya. Candi-candi ini menjulang kokoh selama puluhan abad, melalui berkali-kali restorasi, bahkan sebelum kata "Indonesia" dilahirkan. Candi Singosari terletak di desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sekitar 9 km dari kota Malang ke arah Surabaya. Sangat mudah menjangkau candi ini, terlebih lokasinya ada di tengah pemukiman penduduk dan wilayah dengan nama jalan yang tematik.


Masuk ke sini gratis, bayar kalau beli buku panduannya. Hanya diminta isi buku tamu, lalu terserah, mau nyumbang seikhlasnya untuk perawatan candi, sangat direkomendasikan.

Candi Singosari diperkirakan dibangun pada tahun 1300 M, dibuat sebagai penghormatan kepada raja Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singhasari yang masyhur sebelum menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit yang melegenda. Ada yang bilang raja Kertanegara dimakamkan juga di sini, berdasarkan kitab Pararaton yang menyebutkan bahwa Kertanegara dimakamkan di Tumapel (nama lain dari Singosari). "dimakamkan" di sini artinya tempat bersemayamnya abu sang Raja, mengingat dalam tradisi Hindu, jenazah dibakar kemudian sebagian abunya dilarungkan ke laut, sisanya ditaruh di tempat pendharmaannya yaitu bangunan tempat peringatan atau pemujaan terhadap arwahnya. Bangunan ini pada masyarakat umum disebut Candi.

Bagian bawah candi hanya seperti pelataran yang cukup luas di ke empat sisinya, terdiri dari relung-relung untuk meditasi atau pemujaan. Di dalam setiap relung ada patung Siwa, ada juga yang isinya kosong tidak ada apa-apa. Saya memasuki ruang demi ruang demi melongok setiap sudutnya, berusaha merekonstruksi pikiran, apa yang dilakukan orang-orang dahulu di bangunan ini? well, gak kebayang...baiklaahh...

Masih bingung apakah candi Singosari ini bercorak Hindu atau bercorak Budha, atau keduanya. Mengingat kerajaan Singosari (1222–1292) adalah kerjaan yang bercorak Hindu-Budha. Saya tidak cukup banyak membaca perbedaan candi Hindu dan Budha, pengamatan saya pada struktur candi yang menjulang menyerupai gunung dan ornamen bangunan di mana terdapat banyak patung kepala Batara Kala atau dewa Siwa, yang artinya candi ini bisa juga berupa pemujaan terhadap dewa tertinggi tersebut, menurut saya ini lebih Hindu banget (interpretasi pribadi, red). 

Saya menelusuri sisi demi sisi candi, meraba bebatuan yang menyusunnya, menyimak beberapa lubang bekas direstorasi oleh Belanda di tahun 1930 tapi sepertinya belum sampai rampung karena masih banyak bebatuan di sekitar yang belum kembali pada tempatnya semula. Beberapa arca di sini sekarang berada ke museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, seperti arca Ganesha, Agastya, Durga, dan lain-lain. Sebagian lagi ada di Museum Nasional Indonesia. 

Arca-arca lain berjajar rapi di halaman luar, beberapa sudah tidak utuh bagian-bagiannya atau memang belum terselesaikan. Yang bisa saya kenali antara lain arca dewa Siwa dalam berbagai posisi, dewi Durga, dan lembu Nandhi (tau yaaa..asisten dewa Siwa yang terkenal setia itu), iya saya juga taunya dari serial Mahadeva di antv kok :p



By the way
, yang tidak kalah terkenal dari candi ini adalah legenda kerajaan Singhasari itu sendiri. Diceritakan Singosari ini dulunya bernama Tumapel, bagian dari wilayah kerajaan Kediri, yang dipimpin oleh seorang akuwu (semacam kepala desa/camat) yang bernama Tunggul Ametung. Tunggul Ametung punya istri yang sangat cantik bernama Ken Dedes, yang menurut ramalan, dia akan melahirkan keturunan raja-raja. Salah satu pengawal istana, Ken Arok, kepincut sama kecantikan Ken Dedes, lalu ia berniat merebutnya dari sang Raja dimana akhirnya Tunggul Ametung tewas tertikam keris sakti buatan Mpu Gandring. Sampai di sini, muncul bagian yang menarik, karena ada dua versi sejarah yang berbeda ;

Pertama, selama ini kita mengenal sejarah kerajaan Singhasari dari buku pelajaran di sekolah. Lima jilid buku berjudul SEJARAH NASIONAL INDONESIA karangan Prof.Dr. Nugroho Notosusanto. Dalam versi ini, diceritakan bahwa Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung memakai keris pesanannya dari Mpu Gandring. Tujuan Ken Arok tiada lain adalah melenyapkan suami Ken Dedes dan menjadi penguasa Tumapel. Sebelumnya, Ken Arok melakukan tipudaya fitnah terhadap Kebo Ijo, pengawal kerajaan lainnya, hingga ketika Tunggul Ametung tewas, Kebo Ijo lah yang dihukum mati dan Ken Arok bebas melenggang menuju kekuasaan.

Kedua, versi yang diceritakan dalam novel yang berjudul "Ken Arok" yang konon ditulis berdasarkan kitab Negarakertagama dan kitab Pararaton (kitab para raja). Di sini, si Kebo Ijo, tangan kanan Tunggul Ametunglah yang menikam sang raja karena dijanjikan oleh Kertajaya raja Kediri akan diberi kekuasaan menjadi akuwu Tumapel. Kebo Ijo kemudian dihabisi oleh Ken Arok, dan secara otomatis menggantikan Tunggul Ametung sebagai akuwu Tumapel. Dalam kepemimpinannya, Tumapel berhasil menjadi wilayah yang disegani, baik dari kekuasaan maupun kekuatan prajuritnya, melampaui kerajaan Kediri sendiri yang akhirnya menyerah di tangan taklukannya. 

Tentang versi mana yang benar, perlu kajian lebih luas lagi mengingat kitab Pararaton sendiri ditulis jauh setelah eranya para raja tersebut dan bisa jadi mengandung unsur tambahan, mitologi, maupun tokoh-tokoh fiktif. Begitu pula dengan buku Sejarah Nasional, yang ditulis pada masa orde baru. Kita hanya belajar dari bukti-bukti yang tertinggal, meramu kisah yang tentu selalu penuh interpretasi subjektif.

Yang kemudian sama dari kedua versi ini adalah, Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari dan menjadi raja pertama bergelar Sri Jaya Amurwabhumi (1222-1227). Dari keturunan inilah lahir banyak raja-raja di kemudian hari, terlebih lagi Ken Arok memiliki dua istri yakni Ken Dedes dan Ken Umang. Drama berlanjut ketika perebutan kekuasaan terjadi di kalangan anak-anak mereka, Anusapati sebagai anak tertua yang merupakan anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, merasa berhak dan membalaskan dendam ayahnya menikamkan keris Mpu Gandring ke tubuh Ken Arok. Anusapati menjadi Raja Singhasari (1227-1248), sementara itu persengketaan tahta terus berlanjut di kalangan mereka, saling membalaskan dendam, pergantian raja dari Anusapati ke Tohjaya, Wisnuwardhana, hingga berakhir di raja Kertanegara (1268-1292).

Singhasari mencapai kegemilangannya pada masa Kertanegara yang berhasil menaklukan daerah-daerah di luar Jawa antara lain Melayu, Bali, Pahang, Gurun dan Bakulapura. Bahkan konon ia pernah menolak permintaan Kubilai khan raja Mongol untuk tunduk kepadanya.

Keruntuhan kerajaan Singhasari ditandai oleh kematian Kertanegara saat terjadi penyerangan yang dipimpin oleh Jayakatwang dari kerajaan Kediri. Salah seorang menantu Kertanegara, yaitu Raden Wijaya berhasil melarikan diri lalu kemudian nantinya mendirikan kerajaan legendaris di nusantara, yakni kerajaan Majapahit yang sekarang menjadi wilayah Trowulan, kabupaten Mojokerto.

Puyeng? iyaaaa...tapi menarik. 

Yang pasti, dari hasil jalan-jalan ini, kalau kita mau membaca dan mencari tahu, wisata candi tidak lagi membosankan karena penuh dengan simbol dan peninggalan yang menanti digali lebih dalam. Kalau lah Robert Langdon benar-benar ada, dia pasti antusias banget menelusuri candi demi candi di seluruh Nusantara :)

Traveler notes : masih ada beberapa situs lain di wilayah Candirenggo, antara lain arca raksasa Dwarapala yang biasanya ditempatkan sebagai penjaga pintu gerbang masuk tempat suci. Satu lagi stupa Sumberawan yang letaknya jauh ke atas di kaki gunung Arjuna.

Yang tidak boleh dilupakan saat jalan-jalan ke sini, ada banyak kedai bakso enak di sekitar wilayah candi. Never missed the chance to enjoy city of bakso. 

Mar 27, 2017

Zamzam Hotel & Convention : Segarnya Menginap di Kota Batu

Popularitas Kota Wisata Batu semakin menanjak beberapa tahun belakangan ini, apalagi kota yang ber-icon buah Apel ini sudah memantapkan diri sebagai kota pariwisata dan pertanian. Maka tak heran jika setiap tahunnya, objek-objek wisata baru selalu bermunculan membawa keunikan masing-masing yang membuat kota ini menjadi salah satu top destinasi wisata di Indonesia.

Berkembangnya sektor pariwisata di Batu, dibarengi pula dengan meningkatnya industri hospitality seperti penginapan dan akomodasi. Ada begitu banyak pilihan tempat menginap, dari mulai guest house, hostel, homestay, villa, budget hotel hingga hotel berbintang. Dari yang lokasinya sangat strategis di tengah-tengah tempat wisata hingga hingga di kaki gunung saat kemalaman trekking, penginapan di Batu tak pernah mengalami sepi pengunjung. 

Bingung memilih tempat menginap yang cocok lokasi, harga, dan fasilitas? ada ratusan review untuk ratusan penginapan di Batu yang tersedia di internet. Persiapkan tujuan wisata Anda, budget menginap, durasi menginap dan peta untuk browsing penginapan di sekitar lokasi wisata. Pilihlah penginapan yang standar pelayanannya sudah tersertifikasi, ini merupakan jaminan bahwa fasilitas yang akan Anda dapat telah memenuhi kualitas standardisasi di kelasnya.   

Di postingan ini saya akan mengajak Anda mengunjungi salah satu penginapan terbaik di kota Batu, Zamzam Hotel & Convention. Terletak di ketinggian kurang lebih 900 dpl, udara segar dan view pegunungan menjadi salah satu daya tarik utama menginap di hotel ini, terlebih lagi begitu Anda tiba di hotel, Anda akan kepincut dengan sambutan gemericik air dari kolam ikan, bangunan yang megah dan sapaan ramah dari staf hotel yang bertugas. 



Berdiri pada tahun 2005 di atas lahan seluas lebih kurang 14.000m2 milik pasangan suami istri Bapak Ir. Widagdo dan Ibu Ir. Sri Ribut Gestiani, pada awalnya hanya terdiri dari 3 unit bangunan villa, 2 unit lapangan futsal, serta 12 private room karaoke. Bapak dan ibu Widagdo punya impian besar menjadikan lahan tersebut sebagai kawasan wisata keluarga, maka pada tahun 2012 pembangunan dilanjutkan dengan mendirikan hotel setinggi tiga lantai hingga rampung pada tahun 2014 dengan dioperasikannya 36 unit kamar dan terus bertambah hingga kini memiliki sejumlah 76 kamar.

Kenapa namanya Zamzam? ada hubungannya dengan sumur air suci di kota Mekkah? Ya, filosofinya adalah agar usaha ini menjadi sumber kehidupan dan bermanfaat bagi pemilik, karyawan, keluarga dan lingkungan sebagaimana manfaat keberkahan air zam zam itu sendiri.

Memiliki visi-misi ikut berpartisipasi aktif menyukseskan program pemerintah dalam membangun kepariwisataan kota Batu, hotel ini patut diperhitungkan karena telah disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Usaha Pariwisata (National Hospitality Certification) PT Megah Tritunggal Mulia Surabaya. Sertifikasi di bidang pariwisata ini meliputi standar produk, pelayanan dan pengelolaan sehingga kualitas hotel Zamzam sebagai hotel kelas bintang tiga layak diadu dalam persaingan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang sudah dimulai sejak tahun 2015. 

Lokasi 

Berada di lokasi strategis, Jl. Abdul Gani Atas, Ngaglik, Kota Wisata Batu, hotel ini posisinya sangat dekat dengan berbagai destinasi populer wisata Batu, antara lain 0.3 km dari wisata petik buah Kusuma agrowisata, 0.8 km dari Museum Angkut, dan 1 km menuju Jatim Park 1 dan Museum Tubuh. Bagi yang hobi berwisata kuliner, hotel ini juga lokasinya tidak jauh dari Pasar Apung Nusantara dan Pasar Parkiran yang menyajikan berbagai macam kuliner hingga malam. 

view gunung Panderman

Dikelilingi oleh Gunung Arjuna, Gunung Welirang, Gunung Banyak, dan Gunung Panderman, view pegunungan menjadi pemandangan utama sambil menyantap hidangan di semi outdoor-resto Panderman di lantai 3 ataupun dari teras kamar hotel. Jika malam hari, view pegunungan berganti dengan gemerlapnya lampu kota Batu yang menambah kemewahan dan kenyamanan selama menginap di sini. 

Kamar dan Fasilitas

Zamzam Hotel & Convention memiliki 76 kamar yang terdiri dari 14 tipe Superior (35m2), 26 tipe Deluxe (40m2), 3 tipe Executive (49m2), 3 tipe Junior Suite, 1 tipe Deluxe Suite (64m2), 14 tipe Family Standard (53m2) dan 15 tipe Family Deluxe (63m2). Khusus untuk tipe family, satu kamar muat dihuni oleh 4 orang anggota keluarga bahkan lebih karena tersedia sofa empuk di dalam kamar yang juga bisa dijadikan tempat tidur.

Umumnya, standar fasilitas setiap kamar dilengkapi dengan private bathroom with shower, safety box, mini bar, AC, telepon, kulkas (dengan beberapa minuman di dalamnya), LCD tv, dan koneksi WiFi internet yang terhubung 24 jam. Bed matras di dalam kamar Zamzam hotel, kelas apapun, menggunakan produk Kingkoil yang sudah terbukti kualitasnya sehingga memberikan pengalaman beristirahat yang nyaman di tempat yang menyenangkan.

Beberapa tipe kamar dilengkapi juga dengan ruang tamu, working table dan bath tub dengan air panas. Anda tinggal pilih kamar menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan Anda, they have many room types to offer.



Fasilitas hotelnya sendiri dilengkapi guest lift dan ramp di setiap sisi tangga yang dikhususkan bagi para difabel, lounge untuk sarapan, restoran, 4 buah meeting room yang bisa di customized sesuai kebutuhan acara, area parkir yang luas, Games Room, masjid Al Zamzami, lapangan futsal, karaoke, area outbond, dan terakhir kolam renang yang saat ini di sampingnya sedang dibangun area untuk playground. 



Kemurahan dan keramahan hotel Zamzam juga ditandai oleh terbukanya fasilitas hotel tidak hanya untuk tamu yang menginap melainkan juga bisa dinikmati oleh masyarakat umum seperti masjid yang dipakai untuk sholat 5 waktu dan sholat Jumat, lapangan futsal, restoran dan swimming pool. Bagi Anda yang hanya ingin mampir berenang di sini, tarif Anjasmoro swimming pool untuk umum hanya 30rb sudah termasuk welcome drink dan handuk. Tersedia children pool dengan kedalaman 30 dan 50cm, dan adult pool dengan kedalaman 1.5 dan 2m.



Saya beruntung mendapat kesempatan berkunjung ke bagian dapur hotel Zamzam, bertemu dengan Executive Chef Riyanto yang menjamin bahwa semua hidangan yang tersaji di hotel ini bebas MSG alias penambahan penyedap rasa dan bahan-bahan yang digunakan semua halal, tidak tersedia pork maupun alkohol.

hiruk pikuk bagin kitchen

Perkataan executive chef ini saya buktikan saat mencicipi makanan di Panderman Resto, menu tradisional Indonesia yang kaya rasa seperti sayur lodeh, tumis kangkung, ikan asin, tempe mendoan, dan ayam goreng, tidak satupun tercicipi oleh lidah saya aroma penyedap buatan. Bahkan untuk tiga sambal yang terhidang sebagai pilihan, rasa gurih alaminya muncul dari terasi, bawang dan cabe rawit dan udang kering.


menu tradisional di Resto Panderman
Tiga macam sambal pilihan


Selain fasilitas kamar dan hotel, bagi Anda yang masih bingung dengan tujuan wisata mau ke mana, Zamzam Hotel juga bisa membantu Anda mendapatkan fasilitas rekreasi berupa paket-paket wisata antara lain ; Paket Edukasi Wisata Petik Buah, Paket Batu Sunset Tour, Paket City Tour Kota Wisata Batu. Selain dari itu, tersedia juga paket pernikahan mulai dari harga 24 juta (100pax), paket honeymoon, dan paket table manner untuk kebutuhan usaha, instansi maupun edukasi. 

Daan...selesailah kunjungan saya ke Zamzam Hotel & Convention ini bersama teman-teman dari Blogger Ngalam, dengan senang hati saya membagikan informasi dan review singkat ini untuk Anda. 

Untuk booking hotel, hotel Zamzam sudah terhubung dalam banyak situs booking hotel antara lain TravelokaBooking, Agoda, Rajakamar, Pegipegi, Tiket, dan lain-lain. Anda juga bisa cek testimoni, informasi atau review dari user yang tersedia di Tripadvisor.  

Overall, saya pribadi merekomendasikan hotel ini terutama karena keistimewaan ukuran kamar yang luas di kelasnya dan lokasi yang dekat dengan tempat-tempat wisata di kota Batu, bahkan dengan jalan kaki!


Zamzam Hotel & Convention
Jl. Abdul Gani Atas, Kota Batu – Malang
Phone: 0341-591148/591149 Fax: 0341-591150
Email: info@zamzamhotel.com
Website: www.zamzamhotel.com
Instagram : @zamzamhotel_batu
Twitter : @zamzambatu
Facebook : ZamZam Hotel & Resort


Tik Tak Tik Tuk

Aslinya, bingung ini blog mau diapakan...hidup segan mati tak mau. Mau nulis lagi  rasanya bingung juga mau mulai dari mana...lompat-lompa...