Belanja Make Up di Makeupuccino


Saya bukan makeup junkie, asli, beneran, tengok saja foto-fotoku, halahh….perasaan juga kalo pergi di rumah kaya udah cukup 'berwarna' sampe dikomen suami "ibu kok mukanya merah-merah?", pas difoto hasilnya kok pucet-pucet jugaaa #misteriilahi :)

Wawasan saya soal make up juga standar aja, karena pernah jadi sis bakul lipensetip tentulah harus paham barang dagangan dong, biar bisa merekomendasikan lipstik yang cucmey buat customer. Sebatas memperhatikan saja, nonton tutorial, tapi nggak pernah mengaplikasikannya pada canvas hidup.

Jadi, sengaja pergi khusus ke toko kosmetik buat leisure kaya gini, it’s a luxury hihi. Dulu pergi ke toko buat kulakan bawa list pesanan dan seringnya nggak ada waktu pilih-pilih buat sendiri.      


Makeupuccino awalnya onlineshop juga di instagram @makeupuccino, trus dia buka offline store di Cisangkuy. Trus akhirnya pindah ke jalan Bengawan no 15 ini. Baru kesempetan ke sana karena mau nyari bedak Coty Airspun yang kesohor itu, niatnya kalo ada testernya mau numpang tepuk-tepuk.

Berada di bangunan rumah klasik yang homy banget, Makeupuccino punya beberapa section barang yang dikelompokan masing-masing. Daerah aksesoris make up seperti eyelash, lem eyelash, jepit rambut, dkk. Daerah application tools seperti aneka brush set, manicure set, blender, sisir, dkk. Daerah skincare seperti body lotion, masker, gel, dkk. Terakhir ruangan decorative yang lebih luas memuat aneka make up wajah, lipstik, bedak, eyeshadow dkk dari berbagai brand. Import ada, lokal juga banyak. Kaya Mizzu gitu cukup lengkap koleksinya. Bisa dibilang imbang lah produk lokal sama impornya.









Tapi overall, di sini cukup lengkap buat nyari isian beauty case kamu. Soal harga standar, nggak lebih mahal kok. Yaa katakan saja kamu belanja di swalayan kosmetik, bisa pilih-pilih sendiri, tempat nyaman dan nggak dikejar-kejar mbak SPG.

Sayangnya barang yang saya cari dan juga beberapa barang inceran (yang kalo beneran oke baru beli), ngga tersedia di store. Waktu saya tanya mbaknya “tapi di instagram ada, mbak, gambarnya bedak ini dan brush ini”, mbaknya bilang stoknya beda antara online store dan offline store. Gitu toh….jadi kalo di store mungkin sediaannya brand-brand yang banyak dicari.

Mbak-mbak SPG nya cukup helpful tapi mereka seneng ngobrol mojok di satu tempat. Pas saya kesana posisi sudah jam 7 malam, satu jam sebelum tutup, saat itu masih ada beberapa customer yang baru datang juga. Selagi mondar-mandir lihat barang saya denger sekilas keluhan sesembak  “hmmh, tiga mobil lagi…” mungkin si mbak sudah lelah dan ingin segera cuci muka pake toner.


Eh iya, di pelataran belakang juga ada semacam taman kecil dan teras yang ditaruh kursi-kursi duduk yang cozy. Ternyata itu cafe/kedainya, namanya Rumah Makeupuccino. Soal menu dan harga belum punya informasi, cek aja langsung ke IG nya @rumahmakeupuccino. Kalo kesini bareng suami dan anak-anak sih mungkin aja mereka nongkrong di situ sembari nunggu saya belanja.

Saya beli apa akhirnyaaa? Hehehe cuman beli facial wash dan daycream yang akhirnya saya tinggal juga buat dipake adik.

Berenang di Sumber Alam-Garden of Water, Garut.

Garut, sebuah kota di selatan Jawa Barat yang tidak diragukan lagi pemandangan alamnya sangat indah dengan udara yang relatif sejuk. Berada di ketinggian 717 meter di atas permukaan laut, menjadikan Garut punya pesona wisata alam mulai dari gunung hingga pantai. 

Ada banyak tempat wisata di Garut yang menyediakan kolam atau pemandian air panas, plus dengan resort mewah dan nyaman. Lokasi yang paling banyak ada di daerah Cipanas, yap, karena di sini terdapat sumber air panas alami yang melimpah, tinggal telusuri saja sepanjang jalan ini, dijamin bingung sendiri hehe. 

Beruntung saat mengunjungi sanak saudara di Garut lebaran kemarin, saya dan keluarga berkesempatan untuk berenang di Sumber Alam, Garden of Water. Pilihan berenang ke sini dikarenakan kolam renang yang ada di penginapan kami airnya dingin, hehehe...maklum ya, bawa anak-anak, bisa cuman nyemplung doang terus mereka bilang “udahan buuuu….”


Lokasi 

Mudah menemukan Sumber Alam, karena masih sederetan dengan resort-resort di sepanjang jalan raya Cipanas, Tarogong Kaler, Garut. Ditempuh hanya 5 menit saja dari tempat menginap kami. Kolam renang Sumber Alam dibuka untuk umum, tidak khusus untuk pengunjung resort saja.

Harga Tiket 

Tiket masuk Sumber Alam dibanderol seharga 40rb (dewasa) dan 35rb (anak-anak), cukup murah untuk kolam yang nyaman dibanding kolam renang hotel yang rata-rata harganya di atas 50rb/orang. 

Air Hangat 

Kalau mengharapkan air panas untuk berendam ala jacuzzi, perginya harus ke Darajat Pass...di sana airnya betul-betul panas, cocok buat berendam-rendam aja. Kalau di Sumber Alam airnya hangat-hangat kuku saja, tetap enak dibawa berenang atau berendam. 

Kolam Renang 

Terdapat tiga kolam renang yang ada di Sumber Alam. Yang pertama, kolam renang utama, paling luas dan terdiri dari tiga tingkatan kedalaman (80cm, 100cm, 150cm). 



Yang kedua, kolam anak-anak yang lebih kecil, dalamnya hanya sedengkul si bungsu yang tingginya belum 100cm. Ada perosotan pendek dan ember tumpah. 



Yang ketiga, kolam yang airnya lebih hangat dari dua kolam sebelumnya. Yang ini relatif dangkal dan lebih cocok buat duduk-duduk sambil berendam. 


Kamar Ganti dan Toilet 

Untuk kamar ganti, tersedia sekitar 5 bilik kering seperti di gambar. Sedangkan untuk bilas, showernya terbuka los tanpa sekat jadi kalau mandi ya diakal-akalin aja biar nggak terlalu vulgar, karena yang lain juga sama nasibnya :) Toiletnya hanya ada satu, jadi antri banget. Yang malu mandi di tempat bilas ya harus nunggu benar-benar sepi biar bisa mandi di dalam toilet. 



O ya bawa toilettries sendiri ya, karena di tempat bilas nggak ada soap/shampoo container. Handuk juga tidak disediakan oleh pihak kolam renang.

Cafetaria 

Habis renang terbitlah lapar. Makanan yang dijual di cafetaria Tasikmadu Sumber Alam cukup beragam, mulai dari roti bakar, bakso, burger, nasi goreng, bajigur dan cemilan lainnya. Harga sepadan dengan porsi dan plating cantik (nggak sempet foto, ribet bolbal mandiin anak). Bawa makanan sendiri juga sebenernya nggak apa-apa sih.



Apa yang menarik di Sumber Alam ini? Viewnya, paceeee….lagi berenang trus ngelamun-ngelamun liat view gunung Guntur, alahmaaakk…..rileks, penyegaran seluruh badan. Betaaahhh gitu. Jadi kita nggak hanya dapat badan yang sehat karena berenang tapi juga pikiran yang fresh dan tenang. 

Untuk crowd, Sumber Alam tidak seramai kolam sebelah yang namanya mirip. Masih bisalah berenang satu lintasan tanpa nabrak orang lain. Tuh, bapak-bapak pada main volley air aja bisa. Air di kolam Sumber Alam juga berwarna biru jernih (kelihatan dasarnya) dan bersih. Recommended untuk keluarga.

Kampung Sumber Alam
Jl. Raya Cipanas 122 Garut, Jawa Barat Indonesia 44151
0262 - 238000 / 237700 - WA message only 0896.4055.5291
reservation@resort-kampungsumberalam.com
www.resort-kampungsumberalam.com/


Pengalaman ke Airin Skin Clinic

Mau cerita-cerita syantik tentang pengalaman pertama saya ke klinik kecantikan kulit. Happaahh?? Baru pertama? Iyaa...ciyuus. Saat umur udah harus pake anti aging, saya baru pergi ke klinik hahahaha.


Skip aja ya soal kenapa selama ini gak pernah jadi ke klinik, bakal panjang urusan :D Pokoknya sejauh ini saya merasa punya kulit badak alias kalo cocok ya enak ke kulit, kalo nggak cocok nggak pernah menunjukkan penolakan. Nggak pernah bruntusan, breakout, jerawatan, merah, gatal-gatal atau apa gitu. Makanya kalo ditanya selama ini pake produk skincare apa, ya mbuh, saya jajal aja yang pengen dicoba….


Ya udah nih ya, denger Airin ini dari temen grup WA yang cerita-cerita dia habis perawatan di situ. Trus buka-buka IG nya @airinbeautycare, lihat ada layanan perawatan apa aja, testimoni orang-orang, plus angka 60% yang tertera besar-besar di flyer promo bulan Juni bikin saya berbinar-binar : OKEH, KITA COBA.


Nggak lama-lama mupengnya dari sebelum lebaran, habis lebaran ada kesempatan buat ngacir ke klinik Airin di Antapani. Olalaaa, saya missed info kalau pendaftarannya dimulai jam 8 pagi sementara saya pede aja datang jam 11 siang. Beruntung masih kebagian no antrian, ke 64. Konon katanya, kalau sudah nomor 80an antrian ditutup.  



Tik tuk tik tuk. Jam 1 baru dipanggil untuk registrasi dan bayar 35rb. Biaya membershipnya 25rb untuk transaksi minimal 300.000, bisa dipakai untuk potongan harga treatment (kalau produk tidak diskon). Berhubung saya nggak bakal ke sini lagi dalam kurun waktu 3 bulan ke depan, jadi nggak ambil membership. Lain kali aja ke sini lagi kalo ada promo #eh

Lalu jam 3 dipanggil ke ruang dokter. Aslinya ai clueless sebenarnya apa yang mau ditanyakan ke bu dokter chantique di depanku ini. Akhirnya yang keluar adalah, “Dok, maaf saya baru pertama kali ke klinik kaya gini jadi saya cuma mau tau kondisi dan kebutuhan kulit saya aja dulu.” Dipikir-pikir, udah ngantri 3 jam lebih apa gak sekalian kasih semua keluhan kerutan mata, permanent scars, bintil-bintil lemak dan sebagainya. Tapi ketika ditanya keluhan, yang keluar hanya “merasa lebih kering dari biasanya ya, Dok…”

Yaiyalah, Buu….32 tahun gak pernah perawatan ngana pikir kulitnya masih remaja belia? Dokternya sih setelah meriksa pake alat kaya scanner itu bilang bahwa kulit saya baik-baik aja, warna rata dan tidak ada problem jerawat maupun minyak di area T (reallyyy??? Ahaayy senang sekali...jadi minyak saat difoto itu bukan problem yg serius yah?)

Dibilangin bahwa kekeringan pada kulit memang alamiah seiring usia, kolagen dalam kulit juga berkurang. Problem saya hanya satu: kusam, hahaha. Ini utamanya karena kurang tidur, paparan sinar matahari, makanan bisa juga tapi bukan faktor di saya. Ya udah terjawab, itu memang masalah saya sebagai emak-emak, tukang masak, tukang kebon, dan hobi mbolang. Udah tau kalau sunblock itu harus dipakai tiap hari, tapi tetep dianggurin juga.

Lalu apa treatment yang bisa dilakukan buat kulit saya? Hanya biar mengembalikan kecerahan kulit yang selama ini tertutup sel kulit mati aja. Dokternya menyarankan IPL (intense pulse light) + peeling microdiamond. Untuk produknya, hanya diresepkan suncare whitening sama krim malam, produk lainnya silakan pake yang ada di rumah aja. Tapi, Dok…saya mah gak perlu putih licin kaya di iklan-iklan krim kulit...cuma pingin kulit sehat dan bersih aja. Jawabnya, whitening ini nggak selalu berarti pemutih kok, tapi efeknya mencerahkan.

Ahh baiquelah. Lega juga dengar jawaban seperti ini ya. Tadinya udah jiper aja bakal disuruh banyak perawatan ini itu, pakai produk ina inu...

Oke, nunggu lagi untuk dipanggil perawatan jam setengah 6 sore. Total setengah harian full saya di Airin, nanggung di medan, sekalian perang :)

Treatment yang dilakukan pertama kali adalah peeling microdiamond, jadi kaya kulit tuh ditarik-tarik/disedot ngambilin sel kulit matinya. Nggak lama, tapi efeknya kok bikin enteng ke muka. Setelah itu treatment IPL yang agak-agak bikin kaget karena ada sensasi panas, tapi enakeun juga kok apalagi udahnya dikasih masker charcoal yang katanya memang buat mengangkat sel kulit mati.

Kalo di website airin, IPL itu adalah: "salah satu treatment yang memanfaatkan tekanan cahaya atau sinar dengan intensitas cahaya yang disesuaikan dan gelombang polikromatik (lebar). Dimana ketika sampai ke lapisan antara epidermis dan dermis cahaya tersebut dapat berubah menjadi energi panas, tapi tidak ada efek buruk seperti melukai atau menyakiti kulit. Sebaiknya treatment ini dilakukan berkala sesuai jangka waktu yang ditetapkan agar mendapatkan hasil yang maksimal".

Sedangkan tentang microdermabrasi : adalah cara untuk mengangkat dan menghilangkan lapisan kulit paling luar karena biasanya lapisan luar berada dalam kondisi yang kurang baik seperti kering, keriput dan keadaan kulit yang tidak maksimal. Treatment ini membuat produksi sel baru, menjadikan kulit lebih muda, lembut dan kenyal, melancarkan sirkulasi darah dan oksigen, merangsang tumbuhnya epidermis dan dermis.

Treatmentnya cuma ngabisin waktu nggak lebih dari 30 menit aja, dilakukan sama terapisnya yang berpengalaman. Sayang gak foto before-afternya, ah baru sekali aja lagian ya….kalo difoto mungkin nggak keliatan, tapi kerasa ke muka lebih entengan.

Untuk pemakaian produk, apotekernya bilang jika tidak cocok akan mengalami perih atau bruntusan. Nyatanya, sampai hari ini dua minggu saya pakai alhamdulillah cocok ngets. Cocok dalam artian, saat pakai sunscreen yang krimnya berwarna putih, krimnya langsung meresap ke kulit dan bedaknya juga nempel (nggak misah atau lengket). Krimnya juga ringan, nggak berasa lagi pake sesuatu di muka. Anjurannya sama seperti sunscreen pada biasanya, diulang per 3 jam sekali. Tapi ai mah biasa weee, habis wudhu ya uwis. Kelakuan!

Krim malamnya berwarna sedikit krem, ini nih yang masih aja suka kelewatan -__- ini juga krimnya enak, nyerap dan nggak bikin kering saat bangun tidur. Karena ditaruh dalam kulkas, jadi pas aplikasi enak sejuk-sejuk adem gitu.



Hasil duet krim ini di kulit saya, nyaman. Untuk perubahan sih masih menunggu ya mau merubah apa juga kan warna kulit mah gitu-gitu aja. Tapi kalau kulit yang terhidrasi dengan baik, tidak kering, yes….kerasa banget. Oh ya, saya tanyakan juga kalau mau ambil produk kulit apa saya harus pilih untuk kulit kering, jawaban dokternya tidak harus, karena kulit saya normal. Takutnya kalau pake produk untuk kulit kering, kulitnya malah overhydrated.

Nah, udah puas. Nggak penasaran lagi. Soal garis halus kerutan, kantung mata ya sudahlah nanti lagi itu mah kayanya gak cukup sekali treatment hihihi. Kalau mau konsultasi online, bisa ke nomor yang tertera di Instagram (antrian chatnya mungkin setara dengan kamu menunggu antrian di klinik). Untuk produknya juga bisa didapat secara online tapi tentunya dengan hasil konsultasi terlebih dahulu.

Intinya, treatment SESUAI KEBUTUHAN WAJAH MASING-MASING.  

KLINIK KOPO
Jl. Terusan kopo Katapang, km 12, no 601, Katapang, Bandung, Jawa Barat 40921
TELP. : 022-87776390

KLINIK ANTAPANI
JL. SUKANAGARA NO. 70B ANTAPANI BANDUNG
TELP. : 022-87772108

KLINIK CIMAHI
Jl. Cihanjuang raya km 2.45 Ruko 18A Cihanjuang, Cibabat, Cimahi Utara, Kota Cimahi
TELP. :(022) 86121616

KLINIK SUKAJADI
Jl. Sederhana No.53, Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat 40161
TELP. : (022) 64404999 

info@airinbeautycare.co

M-U-D-I-K 1439H


Meski namanya pulang kampung, sejatinya saya pulang ke kota...namun begitu, tetap saja Bandung adalah rumah, tempat pulang, kampung halaman tempat lahir dan besar, walau halaman di rumah mama sudah berganti alas keramik #eeaa

Kalau secara etimologi, Mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya (mengacu pada kalimat kembali ke udik, dari kota ke ladang/desa), maka benarlah adanya...saya rantau, saya pulang, saya makan!
Sudah lebih dari 10th saya jadi pemudik, baik antar kota maupun antar propinsi. Benar-benar selalu persiapan dan jadi agenda tahunan saat lebaran (kalau waktu masih jarak 100 km-an sih, long weekend; juga mudik).
Beberapa tahun belakangan ini, saya bela-belain nyiapin talangan dulu buat beli tiket H-90 demi seat yang genah dan murah. Maklumlah, kalau nunggu THR turun sih wassalam ya, kebagian kelas paling mahal mele yang mana kalau dikali lima wow...itupun kalau masih kebagian.
Ya sudah, anggap aja semacam hunting tiket promo Air Asia yang dibooking setahun sebelum keberangkatan, hihihi
Hal selanjutnya yang dilakukan setelah tiket di tangan adalah persiapan barang bawaan. Saya pernah terpikir gak usah mudik aja kala membayangkan preparasi yang aduhai ruwetnya. Apalagi setelah anak-anak pada sekolah, rasanya pengin ngekepin aja tuh THR buat biaya-biaya sekolah. Tapi...entah ya, mudik selalu berjalan pada relnya. Dengar obrolan orang-orang yang sudah bertahun-tahun gak pernah pulang kampung karena orangtua sudah tidak ada, atau para pekerja yang mesti kerja qeras bagai quda di saat liburan, rasanya jadi clue buat "okelah, kita mudik aja" . Mumpung rejekinya ada, mumpung orangtua masih lengkap, mumpung transportasi dan jarak yang masih rasional.
Orang Indonesia betul deh, gak mudik gak asik, kurang afdol dan merasa bersalah kalau sampai gagal mudik.
Tahun 2014 saya pernah tidak mudik waktu hamil 8 bulanan. Di kota Malang yang tidak ada sanak saudara sama sekali, tetanggapun sepi, saya masak-masak sendiri hidangan lebaran sebisanya. Lumayan, dimasak dewe dipangan dewe. Lalu siangnya kami nyari bakso ke kota (halah, bakso deui!) dan hari keduanya melancong ke Surabaya via kereta api untuk membunuh sepi.
Tapi bae-bae aja sih....
I mean, it's okay if you have any reason to stay. Gak semua orang diberi kelapangan waktu dan rejeki untuk melakukan ritual mudik masal. Mudik is only tradition, not sunnah. Bukan perkara ibadah juga, jadi bukan bid'ah, hihi. Hanya saja kebanyakan timing libur panjang dan megang duit ya di momen-momen ini, membuat mudik menjadi semacam budaya yang tabu untuk ditinggalkan. Ada duit kok gak balik? Gitu lah kira-kira ya....
Tapi pernah sih dibilang orang, "kok gak pulang, gak kasian sama orangtua?", "gak pengen silaturahim sama sodara?", atau yang paling keji "kerja terus ngejar dunia apa gak inget akhirat?"
Wew. You gotta be kidding. Yang wajib itu silaturahmi, tidak memutus persaudaraan dan meminta maaf pada orangtua. Bukan mudik. Maka silaturahim bisa dilakukan kapan aja, insya allah akan ada rejeki dan waktu luang, tak perlu menunggu setahun sekali.
Beda, yes?
Ahh, 00.30. kereta Mutiara Selatan yang saya tumpangi saat ini sudah sampai stasiun Jogja. Separuh perjalanan menuju pulang. Ada saja yang nggak tahan dengan 16 jam-nya perjalanan kami, "kenapa ga naik pesawat aja sih, beda dikit...kasian anak-anak". Ya udah saya jawab betapa pecicilannya anak-anak sedari tadi, mondar-mandir, bercanda, ketawa-ketawa sampe ngabsenin kereta lain yang berpapasan....alhamdulillah mereka hepi dengan pengalaman ini...malah emak bapaknya yang butuh dipijet. Nih baru tiga jam lalu mereka terlelap, makanya saya bisa nulis-nulis.
Akhirul kalam, saya mau bagi-bagi tips aja untuk pemudik berkeluarga dengan transportasi umum. Jangan banyak berharap bisa bermudik cantik geret-geret koper sambil headset-an dan berselfie ria. Realistis aja yuk, mak emak...yang penting mudik kita nyaman dan aman.

1. Tentukan tujuan mudik. Biasanya kalau sudah menikah ada kesepakatan tertentu apakah mudiknya gantian ikut siapa atau bagaimana pembagiannya biar adil. Jangan sampe mendekati hari H baru ribut, merusak suasana banget.

2. Perhitungan dana. Sudah biasa ya kalau sama keluarga itu selalu ada pengeluaran tak terduga dari mulai anak minta jajan sampai bela beli printilan macam tisu basah, popok, baju dadakan karena sesuatu hal. Jadi jangan terpaku pengeluaran hanya pada harga tiket dan makan saja.

3. Cari tiket jauh hari. Thanks to KAI, Traveloka, Pegi-Pegi, Tiket.com dkk, jawara yang membuat semakin mudah untuk cek tarif dan booking online. Traveling is just one click away. Rajinlah ngecek fluktuasi harga tiket atau perubahan seat kelas yang tersedia. Salah-salah, bisa kehabisan tiket best deal dan terjebak di kelas paling atas lho.

4. Bawa pakaian yang dibutuhkan. Sepengalaman saya, saking banyaknya acara kunjung-mengunjungi, susah kalau mau beli baju dulu di hari-hari prime time silaturahim lebaran. Kalau sudah tau rencana silaturahim, alokasikan baju A untuk acara A, baju B untuk acara B (sesuaikan dengan kondisi cuaca dan acara). Hal ini juga mempersingkat waktu berpikir pakai baju yang mana tiap mau pergi, karena ibu-ibu banyak yang harus diurusin, betuull?

5. Terkait no 4, tips saya pribadi, lebih enak bawa baju sendiri yang mapan ketimbang baju anak-anak. Some said that "bawaan baju anak gw aja sekoper sendiri!" Kalau saya, setelah menghitung kebutuhan dan spare 2-3 stel, jaket, kaoskaki dll ya udah, aman. Baju anak-anak jika habis bisa dicuci atau belanja dadakan, mudah dicari dan cepat kering. Sedangkan kalau baju emak yang habis, walaupun jadi alasan buat beli baju lagi, tapi bagi saya gak mudah. Nyari baju yang cocok size dan harga itu butuh keliling sana-sini, apalagi bajunya dapet tapi kerudungnya ga ada yang pas, trus sendalnya kok gak senada...jadi aja repot 😝

Tapi itu sih saya ya, horang lain mah bebas.

6. Sounding anak-anak tentang perjalanan. Ini penting, agar anak tidak geger menuju bosan mencapai kerewelan yang hakiki. Sering kan kalau pergi biasa aja anak tidak sabar ingin cepat sampai, apalagi jika jarak jauh dan dia nggak bisa ngapa-ngapain.

Jangan terlalu banyak mengatur, tapi berilah tata tertib di perjalanan, terutama jika pakai transportasi umum. Semisal, nggak ngeluarin mainan yang kecil-kecil berpotensi hilang, harus makan yang banyak agar tidak masuk angin, tidak terlalu ribut di kereta saat jam orang lain tidur, harus mau kalau disuruh tidur sama orangtua biar saat di tujuan sudah nggak ngantuk lagi, juga bagi saya nggak perlu bawa permen atau sweeties selama perjalanan (bikin banyak pengen pipis dan batuk).

7. Tenang, tidak panik. Mahapenting buat ibu-ibu yang bawaannya bagai sebulan untuk seminggu, atau ibu-ibu yang keder duluan dengan dirinya sendiri menghadapi anak di perjalanan. Niatkan bahwa perjalanan ini tujuannya menyenangkan, jadi jangan bete di jalan. Saat anak menolak makan yang biasanya, atur strategi asupan makanan pengganti lain. Wajar jika anak sedikit berubah preferensinya saat bepergian, keluar rutinitas sejenak tidak apa-apa. Anak-anak pasti senang kalau kita ceritakan tentang tujuan kita. "Kita mau ke rumah nenek lho, di sana ada kandang ayam trus ayamnya suka main-main di halaman. Kamu mau kasih makan ayam?" Simply as that, membuat mood mereka cerah di perjalanan. Kalau bayi, wayahna ya, Bu, sesekali bawa gendong jalan-jalan, lihat ke jendela atau banyak-banyak nen. Bayi mpasi, bisa sediakan finger food jika spoonfeeding terlalu repot dilakukan.

Apapun yang meleset dari anak kita, tetap tenang, karena kereta terus melaju, ban mobil tetap menggelinding... Jika perlu istirahat, ya lakukan...duduk-duduk dulu di taman atau nyeruput es kelapa di sepanjang jalur mudik.

Happy mudik, all...stay safe, stay healthy 😊

Pura-Pura Hamil


Kemarin-kemarin baca statusnya dokter Annisa Karnadi yang ini , isinya tentang viralnya status-status sosmed memajang testpack dua garis ditambah caption alhamdulillah dapet rejeki lagi blablabla, yang kemudian di bawahnya zonk ternyata nggak hamil dan cuman bercanda. Buat lucu-lucuan.  

Kok rasanya nyeess....sekilas nampak seperti biasa saja (buat kita yang nggak mengalami kesulitan untuk hamil) tapi ketika dibaca lagi dan memosisikan diri sebagai pasangan menikah yang belum kunjung dikaruniai anak, trus baca candaan seperti itu...duh! Lucu dimana nya?

Kita mungkin boleh sering mengeluh karena sabuk naga yang tertinggal permanen di perut pasca melahirkan atau stretchmark yang tak pernah pudar. Kita mungkin sering berteriak lelah digandoli anak kesana kemari, dan ketika takdir memilih kita untuk hamil setiap dua tahun sekali, maka kita merasa dunia tidak adil, sampai-sampai berkata "aduuh kok hamil lagi, sih"

Tapi tahukah kita kalau ada yang diam-diam menangis saat melihat foto keluarga bahagia dengan anak sepasang yang lucu-lucu, ada yang sangat ingin bertukar posisi dengan kita mempunyai banyak anak, mengalami morning sickness dan drama kehamilan lainnya.

Jujur, saya sendiri nggak gitu banyak tahu soal prosedur yang ditempuh teman-teman dalam program hamil, fertilitas, dsb. Saya suka dengar, beberapa teman yang usia pernikahannya sama juga ada yang mengalami, tapi memang nggak berani banyak nanya, cukup meluangkan perhatian dan berdoa yang terbaik untuk mereka. God has everything to answer the time.

Karena saya nggak tahu banyak, dan nggak mengalami bagaimana perjuangan berat mereka, maka saya nggak berani bikin candaan pura-pura hamil atau bikin jokes soal belum hamil, tidak hamil, dan semacamnya. Saya tahu, ada banyak ibu di luar sana yang tidak mudah untuk mendapatkan panggilan seorang "ibu". Saya tahu, ada banyak hati yang pedih ketika mendengar teman seangkatan menikahnya hamil duluan, adik yang menikah belakangan sudah hamil kedua sedangkan dia tak pernah menemukan testpacknya menggambarkan dua garis.

Jangan mempertanyakan kesabaran pada mereka, karena mereka sungguh-sungguh memaknai arti kata sabar itu dengan sebenarnya. Sabar menjalani rangkaian pemeriksaan demi pemeriksaan, terapi sana sini, diberi obat ini itu, disuntik berapa kali dalam sebulan, itu saja sudah pasti sakit, dan berbiaya tidak sedikit. Belum lagi cibiran dan bombardir pertanyaan yang berasal dari teman Facebook sampai keluarga sendiri. Sungguhlah ketika kesabaran menjadi pilihan satu-satunya, kita akan tahu bahwa sabar itu tiada batasnya.     

Video di atas saya liat di youtube mengenai serangkaian tes fertilitas. Tentulah fertilitas hanya satu dari sekian faktor yang menyebabkan seorang perempuan belum berhasil hamil. Dan bukan persoalan pada perempuannya saja, sebagaimana hegemoni patriarki selalu menekankan bahwa perempuanlah penyebab kemandulan, perempuanlah yang bermasalah, semua karena ketidakmampuan rahimnya untuk mengandung. Padahal, faktor yang berasal dari pria juga punya kontribusi yang sama besarnya yang menyebabkan perempuannya belum hamil.

Adil lah sejak dalam pikiran, sejujurnya saya pun masih belajar untuk menahan diri buat nggak berkomentar atau nanya "udah isi apa belum?", pada siapapun pasangan yang kelihatan lama belum momong anak, ataupun pasangan yang baru menikah. Karena apa, karena itu sensitif, bagi pasangan yang memang menunda pun, pertanyaan itu sangatlah gengges dan bermuatan kepo terselubung. Ya udah lah ya, kalo mereka pingin hamil pun akan keliatan lah perutnya membesar atau suatu saat juga mereka akan gendong anak. Syukuri kondisi masing-masing aja, terutama buat kamyuuuu (iyaa kamyuuu, yang dibuntutin anak tiga padahal kepengen banget ngejar beasiswa kuliah lagi hahaha)

Yuk, mari berhenti berkata dan menulis jahat pada para pejuang infertility ini. Jika tidak mampu menahan diri untuk komentar, maka berkata baiklah, atau lebih baik diam.

Belanja Make Up di Makeupuccino

Saya bukan makeup junkie, asli, beneran, tengok saja foto-fotoku, halahh….perasaan juga kalo pergi di rumah kaya udah cukup 'berwarna...